Resilience atau ketangguhan dalam hidup berarti: memiliki kondisi otak yang positif setiap saat, sehingga saat tantangan hidup atau hambatan hidup datang menerpa, maka kita tidak akan terpuruk terlalu lama dan terlalu dalam, namun cepat kembali pulih, dan bangkit kembali menata hidup.

(Membangun Positivity)

Mengapa resilience penting bagi semua orang? Setiap orang pasti menghadapi tantangan atau hambatan dalam hidupnya, seperti:

  • Krisis keuangan
  • Krisis relationships seputar rumah tangga atau kehidupan berpasangan
  • Krisis kesehatan karena penyakit atau kecelakaan
  • Kehilangan orang yang dicintai atau dijadikan tempat bergantung
  • Tragedi karena bencana (alam, sosial, politik)
  • Tekanan lingkungan sekitar (pekerjaan, sekolah, karir, bisnis, rasialisme, agama, suku, orientasi seksual, golongan atau kelompok)

Tantangan hidup ini bisa datang kapan saja, di saat kita masih kecil atau di saat kita sedang produktif atau di puncak karir misalnya atau juga di saat kita sedang menikmati hidup yang sejahtera. Juga di saat kita sedang membangun rencana hidup kita. Tantangan ini bisa datang bergantian atau datang sekaligus dalam satu waktu.

Mereka yang memiliki resilience (ketahanan atau ketangguhan dalam hidup) akan lebih cepat pulih atau bangkit kembali, bahkan hanya terpengaruh sedikit. Namun mereka yang tak memiliki resilience akan terpengaruh atau terpuruk amat dalam dan untuk waktu yang lama. Mereka yang memiliki resilience yang akan bertahan atau bahkan tampil lebih baik dari yang lainnya.

Sekali lagi, Resilience atau ketangguhan dalam hidup adalah sama dengan memiliki kondisi otak yang positif setiap saat, sehingga saat tantangan hidup atau hambatan hidup datang menerpa, maka kita tidak akan terpuruk terlalu lama dan terlalu dalam, namun cepat kembali pulih, dan bangkit kembali menata hidup

Sedangkan mereka yang tak memiliki resilience akan sulit untuk bangkit kembali, sulit untuk menata kembali hidupnya, atau sulit untuk kembali menjalankan rencana-rencana hidup yang sudah disusun sebelumnya. Mereka tenggelam dalam depresi yang lama yang menghancurkan kesehatan serta relationships dengan pasangan hidup, anggota keluarga, teman dan lainnya. Bahkan depresi akhirnya mengubah perilaku dan karakternya menjadi buruk.

Kondisi otak yang positif ini tentu penting bagi mereka yang ingin melesat lebih jauh daripada orang lain atau bagi mereka yang tak ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Kutipan dari World Health Organization website:

  • Depresi mengurangi produktivitas, menyebabkan gangguan kesehatan dan merusak relationships.
  • Depresi menyebabkan kerugian sebesar 1 triliun dolar per tahun secara global.
  • Ada 300 juta orang di seluruh dunia menderita depresi.
  • Meski depresi bisa diobati dengan relatif mudah, namun di banyak negara, hanya 10% penderita depresi yang ditangani dengan baik. Mengapa begitu? Penyebabnya antara lain: pengetahuan kesehatan mental yang rendah, dan stigma sosial pada penderita mental disorder.
  • Dari seluruh anggaran kesehatan di berbagai negara di dunia, biasanya pemerintah hanya mengalokasikan 3% saja untuk kesehatan mental masyarakat.
  • Setiap 1 dolar yang dikeluarkan pemerintah untuk menangani depresi di masyarakat akan menghasilkan 4 dolar, karena membaiknya kesehatan dan meningkatnya kemampuan bekerja masyarakat. Pemerintah pun menghemat uang dalam penyelenggaran layanan kesehatan dan kesejahteraan.
  • Penderita depresi bisa saja tetap bekerja atau belajar di sekolah, dan bahkan melakukan aktivitas sosial lainnya, namun penderita depresi hanya menghasilkan kualitas yang terbatas.
  • Depresi meningkatkan risiko terkena diabetes dan sakit jantung. Namun diabetes dan sakit jantung juga meningkatkan risiko terkena depresi.

Angka dari WHO di atas menunjukkan kesadaran kita tentang kesehatan mental atau kondisi otak yang positif masih rendah. Padahal kondisi otak yang positif amat menguntungkan kita.

KONDISI OTAK YANG POSITIF ADALAH RESILIENCE YANG BISA KITA MILIKI

Sonja Lyubomirsky seorang neuroscientist menyampaikan: secara umum kita memiliki positivity (kondisi positif di otak) sebesar 50% (diwariskan secara genetik). Sisanya (50% lagi):

  1. 10% turun-naik berdasarkan pada peristiwa baik dan buruk di sekitar kita.
  2. 40% bergantung pada upaya kita untuk memiliki positivity. Upaya kita untuk bisa memiliki positivity hingga 40% itu ada yang dimiliki secara alamiah, namun ada juga yang dimiliki melalui proses belajar.

Menurut penelitian neuroscience: saat kondisi otak dalam keadaan positif, maka kita tak mudah stress atau depresi. Itu juga artinya: kita mudah (memiliki kemampuan) untuk memecahkan masalah karena kecerdasan menjadi lebih baik, lebih kreatif, lebih inovatif. 

Tubuh pun tetap sehat, dan bahkan kita cenderung pada kebajikan. Jika kita mampu mempertahankan kondisi otak selalu dalam kondisi positif, maka kita disebut memiliki resilience.

Ada banyak tips untuk memperoleh resilience yang bisa kita temukan melalui Googling. Dari sekian banyak tips itu, kita akan melihat neuroscience memberikan tips yang sederhana. Meski demikian itu bukan berarti mudah, jika tanpa mempraktekkannya secara sungguh-sungguh.

APA YANG DIAJARKAN OLEH NEUROSCIENCE UNTUK MEMPEROLEH RESILIENCE ATAU POSITIVITY?

Ada banyak neuroscientists di seluruh dunia yang telah melakukan penelitian tentang cara untuk memiliki positivity atau resilience ini. Mereka mengajukan berbagai konsep. Di antara mereka ada Martin Seligman, Shawn Achor, Barbara Fredrickson, Sonja Lyubomirsky, dan lain-lain. Di bawah ini adalah daftar tips praktis menurut skala prioritas yang diambil dari berbagai konsep yang diajukan oleh para neuroscientists.

1. Meditasi
2. Bersyukur
3. Melakukan kebajikan
4. Relationships
5. Berolahraga

Di bawah ini adalah penjelasan singkat dari masing-masing tips neuroscience untuk memperoleh resilience atau positivity. Sekilas nampak mudah, namun jika dipraktekkan butuh penjelasan yang panjang dan latihan yang juga panjang. Misalnya soal meditasi, akan banyak pertanyaan di seputar meditasi saat dipraktekkan. Begitu juga soal bersyukur yang dipraktekkan dalam bentuk “menulis jurnal” yang isinya adalah hal-hal positif yang terjadi pada diri kita atau di sekitar kita. Hal-hal positif ini terus dicari dan ditulis dalam jurnal yang kita sediakan. Ternyata menemukan atau menyadari adanya hal-hal positif itu berat atau tidak gampang.

MEDITASI

Lebih dari 2 dekade para neuroscientists di berbagai tempat di dunia melakukan penelitian pada meditasi. Ada beberapa kegiatan ibadah agama yang disebut mirip dengan meditasi, misalnya berdoa. Mereka kemudian menemukan cara bagaimana melakukan meditasi yang sederhana, namun bisa mengubah kondisi otak menjadi positif secara signifikan, apalagi jika dipraktekkan untuk waktu yang lama. Mereka memberi sebutan untuk cara meditasi yang mereka susun dengan sebutan “mindfulness meditation“. Caranya hanya dengan memperhatikan atau fokus pada tarikan nafas masuk dan hembusan nafas keluar. 

Beberapa kali tarikan dan hembusan nafas saja sudah memberikan kondisi baik di otak, apalagi jika dilakukan bermenit-menit dan sering setiap hari, dan apalagi jika dilakukan sejak kecil (lihat tulisan saya yang lain).

BERSYUKUR atau MENULIS JURNAL

Bersyukur adalah tradisi yang bisa ditemukan di agama apa pun atau dalam kultur mana pun di dunia. Popularitas praktek bersyukur memang berkaitan dengan munculnya efek positif di otak. Mereka yang mudah bersyukur biasanya adalah mereka yang memiliki spiritualitas.

Bersyukur dalam neuroscience tidak sama dengan bersyukur dalam tradisi agama. Bersyukur dalam neuroscience tak mudah, karena praktek ini adalah proses terus-menerus dalam menemukan hal-hal positif yang terjadi pada kita atau di sekitar kita sepanjang 24 jam terakhir. 

Hal-hal positif ini ditulis di atas kertas atau diketik dalam 1 atau 2 paragraf. Bersyukur menurut neuroscience ini disebut juga sebagai “menulis jurnal”. Bersyukur ini ditulis sekali atau lebih setiap hari dan hal apa yang ditulis berganti terus (lihat juga tulisan saya yang lain mengenai ini).

MELAKUKAN KEBAJIKAN

Sebenarnya jika meditasi dan bersyukur sudah dilakukan, maka otak sudah cukup memiliki kondisi positif. Otak yang dalam kondisi positif ini lebih cenderung pada kebajikan. Namun neuroscience menganjurkan agar kita tak lupa untuk berusaha melakukan kebajikan setiap hari karena praktek melakukan kebajikan menghasilkan positivity di otak. Kebajikan bisa dilakukan dalam bentuk apa pun secara individual atau berkelompok (kegiatan sosial).

RELATIONSHIPS

Ada sebuah penelitian yang berusia puluhan tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Penelitian ini bahkan melibatkan 3 generasi yang dimulai sekitar tahun 1930-an tentang apa yang membuat orang menjadi sehat dan panjang umur. Penelitian ini menemukan bahwa ternyata penyebab orang menjadi sehat dan berumur panjang bukan karena makanan sehat atau olahraga yang teratur.

Juga bukan kekayaan atau keturunan, tetapi adalah memiliki relationships yang mendalam dan baik, terutama dengan pasangan hidup dan anggota keluarga yang lain, seperti anak atau orangtua. Mereka yang memiliki relationships yang mendalam dan baik ini, biasanya juga memiliki relationships yang bagus pula dengan orang-orang lain.

Jadi, kita harus terus mencari cara untuk membangun atau memelihara relationships kita semampunya. Ada banyak artikel atau buku yang ditulis mengenai ini. Mulai mencarinya dengan cara melakukan Googling.

BEROLAHRAGA

Lalu mengapa kita membutuhkan olahraga, padahal penelitian menunjukkan kita tak membutuhkan olahraga untuk tetap sehat dan berumur panjang? 

Olahraga bisa berfungsi untuk membangun relationships dengan pasangan yang kita cintai atau anggota keluarga, atau juga dengan orang-orang lain. Jika kita sudah memiliki relationships yang bagus, tentu jika ditambah dengan olahraga, maka akan sempurna positivity atau resilience yang kita miliki. Mengapa? Karena olahraga memicu keluarnya hormon endorphin yang menghasilkan positivity di otak kita.


Setiap tips untuk memperoleh positivity atau resilience di atas akan dibahas lebih panjang lagi dalam berbagai tulisan dalam website “Membangun Positivity” ini. Silahkan membaca.

Semoga berguna.

M. Jojo Rahardjo


Tulisan lain seputar Resilience:

2 Comments to “RESILIENCE”

  1. How do I change firefox from remembering my facebook info?

  2. What is the best short or from home creative writing course available in London?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *