Kepedulian Sosial dan Positivity

World Happiness Report (WHP) yang terbit tiap tahun dan disusun oleh para neuroscientists menyebutkan negeri-negeri yang paling bahagia sebagian besar berada di Eropa atau di wilayah-wilayah yang lebih dingin. Laporan ini juga menjelaskan mengapa mereka bahagia, maju, sejahtera dan mengapa mereka lebih humanis.

Memiliki kepedulian pada orang lain secara konsisten memiliki kaitan erat dengan fisik dan kejiwaan pelakunya. Begitu juga sebaliknya. Orang-orang yang peduli pada kesejahteraan orang lain melalui tindakan altruisme, sukarela, dan pembentukan hubungan komunal tampaknya lebih memiliki positivity (kebahagiaan), lebih sehat dan tidak mudah tertekan. Positivity yang mereka miliki membuat lingkaran yang saling mempengaruhi secara timbal-balik yang menjadikan mereka lebih cerdas, maju, sejahtera dan humanis.

Sebagaimana kita ketahui, positivity adalah kondisi positif di otak yang membuat fungsi otak menjadi lebih baik, seperti kemampuan berpikir, belajar, berkreasi, berinovasi, dan memecahkan masalah. Kondisi positif di otak ini juga memperbaiki kemampuan dalam menghadapi stress dan depresi yang pada gilirannya juga ikut meningkatkan kesehatan tubuh secara umum. Bahkan, kondisi otak ini ikut mendorong kecenderungan pada kebajikan.

Kondisi otak yang seperti ini tentu kita butuhkan untuk menghadapi tantangan atau hambatan hidup yang bisa datang kapan saja dan sebesar apa pun.

Sebagian besar dari kita tahu bahwa jika kita makan buah dan sayuran, sering berolahraga, maka kita akan hidup sehat dan berusia lebih panjang. Namun daftar tips itu harus ditambahkan dengan “membantu orang lain”. Karena tips baru ini juga harus dijalankan untuk menjadi lebih sehat dan lebih panjang umur. Sebuah laporan yang disusun oleh Dr Suzanne Richards dari University of Exeter Medical School mengulas 40 studi sepanjang 20 tahun terakhir untuk memahami hubungan antara para ‘relawan kegiatan sosial’ dengan kesehatan mereka. Mungkin itu menjelaskan mengapa orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mengurangi penderitaan orang lain, seperti bunda Teresa, bisa tetap sehat dan berumur panjang, meski kurang tidur, kurang makan dan minum.

Salah satu penjelasan mengapa para relawan bisa lebih memiliki positivity adalah adanya ‘interaksi sosial’. Adanya tatap muka, saling bersentuhan, kontak mata, dan senyum memang dibutuhkan untuk menumbuhkan positivity di otak kita. Interaksi tersebut melepaskan hormon yang disebut oxytocin, yang memicu munculnya kepedulian terhadap sesama, dan juga membantu kita untuk tak mudah tertekan.

Menjadi relawan kegiatan sosial adalah cara yang baik untuk bertemu orang lain, menambah persahabatan, dan memiliki rasa kebersamaan.

Sebagian orang peduli pada orang lain melalui tindakan altruisme dan kegiatan sosial yang terorganisir, sementara yang lain lebih suka menyumbang uang dan keterlibatan dalam sebuah hubungan interaktif dalam sebuah komunitas. Kepedulian bisa juga dalam bentuk yang sesederhana, seperti membantu rekan kerja atau teman sekelas yang terlihat kesepian atau sedang berjuang dengan masalah.

Riset menunjukkan bahwa ada kaitan yang signifikan antara kepedulian terhadap orang lain dengan meningkatnya positivity. Beberapa riset telah menemukan bahwa korelasi ini tampaknya tertinggi pada orang dewasa yang lebih berumur yang berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau menjadi relawan. Para relawan cenderung merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap orang lain di sekitarnya. Hal ini menunjukkan adanya “motivasi intrinsik” relawan, yaitu mereka lebih termotivasi untuk kepentingan relawan itu sendiri, yaitu untuk merasa lebih puas dalam hidup.

Para peneliti juga menemukan bahwa mereka yang menjadi sukarelawan kegiatan sosial dinilai lebih tinggi pada indeks kesehatan mentalnya yang bertahan tiga bulan. Riset ini menunjukkan bahwa manfaat dari kegiatan sukarelawan bisa tahan lama.

Sementara kegiatan sukarelawan adalah contoh dari kepedulian, penelitian dilanjutkan untuk memahami faktor-faktor yang mendorong individu-individu tertentu untuk menjadi lebih peduli daripada yang lain. Riset menunjukkan bahwa individu dengan keluarga yang sangat-altruistik cenderung lebih peduli untuk kesejahteraan orang lain. Positivity yang muncul saat menyaksikan orang lain melakukan perbuatan baik, ternyata mendorong orang untuk melakukan hal yang sama. Lebih jauh lagi, ternyata praktek-praktek budaya dan keyakinan juga ikut mempengaruhi orang untuk memiliki kepedulian. Riset ini telah menunjukkan bahwa kepedulian kepada orang lain, dipengaruhi oleh lingkungannya. Jadi jangan sembunyikan kebajikan anda!

Kegiatan sukarelawan ini bahkan cocok bagi orang-orang beragama, karena dengan menjadi ‘sukarelawan kegiatan sosial’ akan menegaskan, bahwa keyakinan yang mereka miliki memang mengajarkan untuk membantu dan melayani orang lain.

M. Jojo Rahardjo


Tulisan lain seputar kebajikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *