Tahun 2020 Tahun Pandemi, Tahun 2021 Tahun Optimisme?

Berita itu pelahan semakin memenuhi berbagai media, terutama media sosial di seluruh dunia, termasuk Indonesia….

“Wuhan jiayou….” Kata itu berarti “Wuhan, semangat lah”, terdengar diteriakkan pada akhir Januari 2020 oleh warga dari berbagai jendela rumah atau apartemen di kota Wuhan di Cina saat mereka dalam situasi lockdown sejak tanggal 23 Januari 2020 lalu. Videonya menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. 

Mereka yang melihat video itu merasakan suasana mencekam, karena tak terlihat orang berlalu lalang di jalanan, kota Wuhan seperti kota mati. Semua terlihat sepi, kecuali pemandangan orang-orang di jendela rumah atau apartemen meneriakkan kata “Wuhan jiayou….”

Ahli kesehatan menyebut Cina dilanda wabah virus corona baru, seperti SARS dan MERS. Wabah itu dimulai di Wuhan sejak Desember 2019. Lalu 1 bulan kemudian, di akhir Januari 2020 itu, sudah lebih 100 orang mati di Cina, hampir seribu orang dalam kondisi serius, dan ribuan orang sudah terpapar virus corona. Sementara itu virus corona mulai menyebar ke Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan hampir ke seluruh dunia.

WHO memberi nama COVID-19 pada 11 Februari 2020 pada penyakit yang sedang menyebar ke seluruh dunia itu. Penyakit ini disebabkan oleh virus corona yang telah bermutasi dari virus corona yang beberapa tahun lalu telah menyebabkan wabah SARS dan MERS. Namun virus baru ini sekarang lebih mudah menyebar, meski tingkat kematian COVID-19 ini lebih rendah daripada SARS dan MERS. Virus baru ini berbahaya bagi mereka yang punya penyakit bawaan atau mereka yang di usia lanjut.

Pada 11 Maret 2020, saat WHO menyatakan penyakit ini sebagai pandemi (wabah global), COVID-19 pun telah menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia dan jumlah kematian hampir mencapai angka 5000 orang.

Indonesia sendiri di tanggal 2 Maret menyatakan 2 orang positif COVID-19. Pada 11 Maret kematian pertama di Indonesia terjadi di Bali, yaitu seorang WNA.

Media pun, terutama media sosial dipenuhi dengan informasi tentang COVID-19 ini. Ada yang kredibel, namun kebanyakan hanya hoax belaka. Aktivitas ekonomi pun surut. Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya, penghasilannya, usahanya, dan orang-orang yang mereka cintai. Dunia pun menjadi muram.

====

JANGAN KALAH DENGAN PANDEMI, AYO TETAP KUAT!

Berbagai survei dan riset yang sudah dibuat untuk melihat adanya dampak negatif pandemi yang kuat pada tingkat stres atau depresi. Sebagaimana kita semua sudah tahu, stres mengakibatkan turunnya immmune system. Padahal justru immnune system yang paling kita butuhkan di masa pandemi ini.

Tidak hanya immune system yang kita butuhkan di masa pandemi ini. Di saat krisis tak punya uang, tak punya penghasilan, menurunnya bisnis, ketidakpastian masa depan, kehilangan orang-orang yang dicintai, takut tertular, tidak leluasa pergi ke luar rumah, dan lain-lain, kita butuh otak yang tetap berfungsi maksimal agar bisa melalui masa krisis ini dengan selamat, atau malah bisa mendapat benefit.

Kutipan dari buku: PEDOMAN DUKUNGAN KESEHATAN JIWA DAN PSIKOSOSIAL PADA PANDEMI COVID-19 (diterbitkan oleh Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI):

Pandemi COVID-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan jiwa dan psikososial setiap orang. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi COVID-19 sejumlah 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) yang dilaporkan di 192 negara/wilayah. Di antara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas kesehatan yang dilaporkan terinfeksi COVID-19. Pada tanggal 12 April 2020, Indonesia melaporkan kasus konfirmasi COVID-19 sebanyak 4.241 kasus.

Menurut WHO (2020), munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisam masyarakat. Meskipun sejauh ini belum terdapat ulasan sistematis tentang dampak COVID-19 terhadap kesehatan jiwa, namun sejumlah penelitian terkait pandemi (antara lain flu burung dan SARS) menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kesehatan mental penderitanya.

Penelitian pada penyintas SARS menunjukkan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, 41—65% dari penyintas mengalami berbagai macam gangguan psikologis (Maunder, 2009). Sebuah penelitian di Hong Kong menunjukkan bahwa masalah psikologis pada penyintas SARS tidak berkurang dalam kurun waktu satu tahun setelah kejadian. Bahkan, diperkirakan 64% dari penyintas berpotensi mengalami gangguan psikiatrik (Lee, dkk., 2007).

Adapun faktor risiko terbesar untuk mengalami berbagai distres psikologis terdapat pada perempuan dan tenaga kesehatan. Sebuah penelitian yang juga dilakukan di Hong Kong bahkan menunjukkan bahwa 30 bulan paskainfeksi SARS, 25.6% dari penyintas mengalami Post Traumatic Disorders (PTSD) dan 15.6% mengalami gangguan depresi. Secara rata-rata, setidaknya 30% penyintas mengalami salah satu dari gejala tersebut (Mak dkk., 2009).

Berdasarkan penelitian tentang dampak tsunami pada tahun 2004, maka semua masalah kesehatan jiwa meningkat hampir dua kali lipat setelah 12 bulan, yaitu gangguan jiwa berat (severe mental disorder) dari 2-3% menjadi 3-4%, gangguan jiwa sedang ke berat (mild to moderate mental disorder) dari 10% menjadi 15-20%, sedangkan distres psikososial sedang ke berat (mild to severe psychosocial distres) mencapai 30-50%, dan distres psikososial sedang (mild psychosocial distress) 20-40% (WHO, 2005).

Kondisi kesehatan masyarakat terkait penularan virus corona dibagi menjadi orang tanpa gejala, orang dengan pemantauan, pasien dengan pengawasan, dan orang yang menderita COVID-19. Belum ada penelitian yang mengukur masalah kesehatan jiwa dan psikososial masyarakat terkait dengan pandemi ini, namun berdasarkan hasil penelitian WHO (2005) saat bencana tsunami, maka perlu segera dilakukan promosi kesehatan jiwa dan psikososial, pencegahan terjadinya masalah kesehatan jiwa dan psikososial, serta mendeteksi dan memulihkan masalah kesehatan jiwa dan psikososial.

====

Sekarang di bulan Desember 2020 ini vaksin sudah dibuat, dan sudah siap untuk didistribusikan ke masyarakat, namun proses untuk menuju herd immunity dari vaksinasi ini masih panjang. Mungkin saja pandemi ini baru bisa kita “kalahkan” setelah tahun 2021 atau lebih, karena berbagai tantangan, seperti ketersediaan jumlah vaksin, geografi Indonesia yang memiliki banyak tempat terpencil, atau jumlah nakes yang tak sebanding dengan jumlah penduduk, dan lain-lain.

Apakah dunia masih akan muram di tahun 2021? Bagaimana dengan tahun 2022?

Jadi apa yang paling kita butuhkan untuk bisa menghadapai masa depan yang tidak pasti itu? Atau bagaimana cara kita bisa melalui pandemi ini atau  melalui berbagai bencana, tantangan atau hambatan hidup ini yang bisa datang kapan saja? Bagaimana kita bisa lolos dari jerat stres atau depresi karena pandemi ini atau bencana lainnya?

====

HAMBATAN HIDUP, TANTANGAN HIDUP, ATAU BENCANA YANG BISA MENIMPA KITA KAPAN SAJA

Pandemi bukan peristiwa yang sering terjadi. Pandemi terakhir terjadi 100 tahun yang lalu, yaitu di tahun 1918-1920. Pandemi ini disebabkan oleh Spanish Flu yang membunuh kurang lebih 50 juta orang di seluruh dunia. Saat pandemi itu terjadi, pengetahuan tentang virus dan cara penyebarannya belum terlalu dipahami, sehingga angka korbannya terlalu tinggi dibanding dengan pandemi COVID-19 sekarang. 

Padahal jumlah penduduk dunia masih sedikit, padahal sistem transportasi dunia belum sehebat sekarang. Hanya dalam 2 tahun (1918-1920) pandemi ini cepat sekali meluas ke seluruh dunia. Pulau Jawa pun tercatat dilanda pandemi Spanish Flu. Korban berjatuhan sebanyak 1,5 juta orang, karena respon pemerintah Belanda yang kurang baik.

Sekarang saat pandemi COVID-19 mulai merebak, sebagian dari para ahli pun mencari-cari catatan sejarah mengenai pandemi Spanish Flu di masa 100 tahun lalu itu. Sebagian lagi berusaha membuatkan vaksinnya. Dan sebagian lagi mencari cara untuk mencegahnya menyebar cepat dan meluas.

Mungkin itu sebabnya dunia kedokteran dan pemerintah berbagai negara merespon pandemi ini seperti baru pertama kali terjadi. Temuan yang disebarkan dan langkah yang diambil berulangkali dikoreksi oleh badan-badan kesehatan dunia dan kumpulan ilmuwan dunia. Memang begitulah sains, dibangun dari berbagai kesalahan dan dibangun melalui riset yang panjang.

Dunia pun dilanda cemas, panik atau stres bahkan depresi, karena para pemimpin berbagai negeri berulangkali mengkoreksi langkah atau kebijakannya dalam menghadapi pandemi ini. Media sosial dipenuhi dengan teori konspirasi atau hoax, bahkan ajakan untuk “melawan” langkah yang diambil pemerintah. Stres memang membuat orang mudah panik atau melakukan tindakan irasional lainnya. Orang menjadi mudah dihasut dan lebih percaya pada berita yang belum pasti kebenarannya.

====

Pandemi bukanlah satu-satunya sumber hambatan hidup atau tantangan hidup yang besar di dunia ini yang bisa menimpa siapa pun atau warga mana pun. Perang, atau konflik politik, agama, atau etnis serta bencana alam juga tantangan hidup atau hambatan hidup yang menghasilkan penderitaan yang besar bagi warga sebuah wilayah atau teritori. Semua hambatan hidup itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja pada siapa saja.

Semua kegiatan rutin yang biasa dilakukan berubah, kebutuhan dasar manusia menjadi terkendala untuk diperoleh, seperti kebutuhan pangan, kesehatan, rumah, penghasilan, rasa damai, rekreasi dan lain-lain. Itu adalah masa sulit atau masa krisis bagi sebagian besar orang, terutama kalangan bawah. Meski demikian, mereka yang di kalangan menengah dan atas pun mendapat hambatan hidup juga. Usaha mereka terhambat, karier terhambat, tak bisa leluasa lagi pergi ke berbagai tempat di dunia ini. Belum lagi tentang masa depan yang tidak pasti.

Data dari WHO menyebutkan, bahwa tiap tahun angka kematian karena bunuh diri jauh lebih besar daripada karena perang, konflik, atau bencana alam dan penyakit (digabung menjadi satu). Setiap tahun hampir sejuta orang di dunia ini melakukan bunuh diri. Jadi selain karena virus corona sendiri, di masa pandemi ini ada sejumlah orang tewas karena bunuh diri. Penyebab mereka yang bunuh diri itu bisa erat sekali dengan stres atau depresi yang disebabkan adanya pandemi ini. Sementara itu, masih menurut WHO, rata-rata pemerintahan di dunia hanya mengalokasikan hanya 3% dari seluruh anggarannya untuk menangani kesehatan mental masyarakat.

Berapa anggaran di Indonesia untuk menangani kesehatan mental, terutama di masa pandemi ini?

Dunia pernah dilanda perang hebat sebanyak 2 kali, yaitu perang dunia 1 dan 2. Masing-masing negeri juga pernah dilanda perang yang menyusahkan warganya. Semua kegiatan yang biasa dilakukan berubah, kebutuhan dasar manusia menjadi sulit untuk diperoleh. Semua itu menghasilkan stres, depresi, atau gangguan kejiwaan.


PERAN NEUROSCIENCE DI MASA PANDEMI

Dulu, psikologi dikembangkan beberapa puluh tahun lalu untuk menjawab kebutuhan yang disebabkan oleh situasi Perang Dunia 1 dan 2 yang membuat banyak orang mendapat gangguan kejiwaan. Psikologi mencari tahu apa yang sakit atau apa yang salah dengan jiwa manusia dan bagaimana menyembuhkannya.

Kemudian pada 3 dekade terakhir, karena perkembangan sains dan teknologi yang pesat, maka keberadaan, cara kerja dan fungsi otak semakin diteliti. Hasilnya beberapa penemuan penting tentang otak yang ternyata berkaitan dengan kecerdasan, perilaku, stres atau depresi, produktivitas, kesehatan tubuh, hingga altruism dan spiritualism.

Neuroscience terus fokus mengkaji potensi positif yang dimiliki otak. Para peneliti sampai pada temuan tentang otak yang mampu berfungsi maksimal, sehingga bisa meningkatkan kecerdasasan, kreativitas, inovasi, kemampuan memecahkan masalah, tahan stres atau depresi, kesehatan tubuh, dan kecenderungan pada altruism hingga spiritualism.

Berbagai riset neuroscience fokus pada meningkatkan fungsi otak dalam kaitannya dengan menghadapi persoalan hidup atau tantangan hidup yang memang real ada dan cara memecahkannya sendiri tanpa bantuan terapis atau psikiater. Tentu saja itu menjadi mungkin karena otak yang berfungsi maksimal bisa melakukan apa pun. Tantangan hidup atau hambatan hidup yang pasti muncul dalam kehidupan seseorang menjadi mudah dilalui dengan otak yang berfungsi maksimal. Kita menjadi lebih siap, karena memiliki berbagai tools atau memiliki ketangguhan (resilience) untuk menghadapi situasi perang, bencana alam, bencana penyakit, situsasi sulit lainnya yang bisa terjadi kapan saja.

Para ahli meneliti atau mencari berbagai hal atau kegiatan yang mampu mengubah fungsi otak menjadi maksimal. Lalu ditemukan lah meditasi yang ternyata paling memberi perubahan yang maksimal. Juga kegiatan bersyukur yang kemudian dirumuskan kembali menjadi menulis ‘jurnal positif’. Para ahli juga meneliti kegiatan lainnya seperti altruism (kebajikan), relationships (silaturahmi), dan olahraga yang semuanya ternyata bisa memberikan perubahan positif di otak.

Ternyata dari berbagai riset neuroscience di seluruh dunia sepanjang 3 dekade itu ada 5 tips atau aktivitas yang dapat membuat kita menjadi tangguh dalam menjalani hidup, terutama saat hambatan hidup yang besar datang, seperti pandemi COVID-19 ini. Bahkan 5 tips itu juga sangat penting untuk bisa melesat maju melebih orang lain.

Lima tips ini kadang disebut 5 tips untuk memiliki positivity yang besar, kadang juga disebut 5 tips untuk memiliki ketangguhan (resilience). Jika kita Googling, maka kita akan menemukan arti kata positivity, namun kata itu dalam neuroscience memiliki arti begini: sebuah kondisi di otak saat berfungsi maksimal, sehingga menjadi lebih cerdas, punya solusi, kreatif, inovatif, tahan stres atau depresi, produktif, tubuh lebih sehat, dan lebih cenderung pada altruism (kebajikan) atau spiritualism.

Mengapa 5 tips? Semua tips ini adalah hasil dari berbagai riset untuk menemukan cara mengubah fungsi otak menjadi maksimal. Tentu ada tips lain di luar 5 tips ini, namun 5 tips ini memiliki tingkat yang paling besar.

1. MEDITASI

Lebih dari 2 dekade para neuroscientists di berbagai tempat di dunia melakukan penelitian tentang meditasi. Mereka menemukan, beberapa kegiatan ibadah agama yang disebut mirip dengan meditasi, misalnya berdoa. Mereka kemudian menemukan cara bagaimana melakukan meditasi yang sederhana, namun bisa mengubah kondisi otak menjadi positif secara signifikan, apalagi jika dipraktikkan untuk waktu yang lama. Mereka memberi sebutan untuk cara meditasi yang mereka susun dengan sebutan “mindfulness meditation” atau “seculara meditation”.

Cara meditasi ini mudah, yaitu hanya dengan memperhatikan atau fokus pada tarikan nafas masuk dan hembusan nafas keluar. Beberapa kali tarikan dan hembusan nafas saja sudah memberikan perubahan baik di otak, apalagi jika dilakukan bermenit-menit dan sering setiap hari, dan apalagi jika dilakukan sejak kecil atau untuk periode yang panjang.

2. BERSYUKUR atau MENULIS JURNAL

Bersyukur adalah tradisi yang bisa ditemukan di agama apa pun atau dalam kultur mana pun di dunia. Bersyukur itu sangat popular. Praktik bersyukur itu memang berkaitan dengan kemunculan efek positif di otak. Mereka yang mudah bersyukur biasanya sering disebut memiliki spiritualitas.

Bersyukur dalam neuroscience tidak sama dengan bersyukur dalam tradisi agama. Bersyukur dalam neuroscience tak mudah, karena praktek ini adalah proses terus-menerus dalam menemukan hal-hal positif yang terjadi pada kita atau di sekitar kita sepanjang 24 jam terakhir.

Hal-hal positif ini ditulis di atas kertas atau diketik dalam 1 atau 2 paragraf. Bersyukur menurut neuroscience ini disebut juga sebagai “menulis jurnal”. Orang yang bersyukur itu artinya mereka menulis sekali atau lebih setiap hari dan subyek yang ditulis juga berganti terus.

3. ALTRUISM ATAU MELAKUKAN KEBAJIKAN

Sebenarnya, jika orang sudah melakukan meditasi dan bersyukur, maka otak mereka sudah cukup memiliki kondisi positif. Otak yang dalam kondisi positif ini lebih cenderung pada kebajikan. Selain itu, neuroscience menganjurkan agar kita berusaha melakukan kebajikan setiap hari karena praktik melakukan kebajikan menghasilkan positivity di otak.

Seseorang bisa melakukan kebajikan dalam bentuk apa pun secara individual atau berkelompok (kegiatan sosial).

4. RELATIONSHIPS ATAU SILATURAHMI

Ada sebuah penelitian yang berusia puluhan tahun dan masih berlangsung hingga saat ini. Penelitian ini telah berlangsung (dan melibatkan) 3 generasi, yang dimulai tahun 1930-an. Para peneliti ingin mengetahui sebenarnya apa yang membuat orang menjadi sehat dan panjang umur. Penelitian ini menemukan bahwa ternyata penyebab orang menjadi sehat dan berumur panjang bukan karena makanan sehat atau olahraga yang teratur.
 
Juga bukan kekayaan atau keturunan. Penelitian itu memberikan hasil bahwa seseorang sehat dan panjang umur adalah karena memiliki relationships yang mendalam dan baik, terutama dengan pasangan hidup dan anggota keluarga yang lain, seperti anak atau orangtua. Mereka yang memiliki relationships yang mendalam dan baik ini, biasanya juga memiliki relationships yang bagus pula dengan orang lain.
Penelitian yang panjang itu mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang harus terus mencari cara untuk membangun atau memelihara relationships dengan maksimal. Di internet banyak artikel atau buku tentang hal ini.

5. BEROLAHRAGA

Olahraga memicu keluarnya hormon endorphin yang menghasilkan positivity di otak kita. Selain endorphin, menghasilkan dophamine, oxytocin, dan serotin. Semua itu adalah positive hormones.

Tubuh yang aktif atau sering bergerak membuat otak berfungsi lebih maksimal. Menurut studi neuroscience, tubuh yang aktif bergerak melalui olahraga dapat menangkal penuaan dini otak hingga 10 tahun. Tubuh yang aktif bergerak memperbaiki daya ingat dan kecerdasan. Jadi olahraga bukan hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menyehatkan otak atau pikiran.

Fungsi olahraga bukan hanya itu, ternyata olahraga juga sebuah aktivitas yang memicu kita melakukan aktivitas lain yang bisa memperbaiki fungsi otak. Jadi saat kita berolahraga, ternyata kita juga melakukan aktivitas lain seperi meditasi, bersyukur, relationships dan altruism.

2020 DAN SETERUSNYA ADALAH TAHUN PENUH OPTIMISME

Tahun 2020 adalah tahun yang sulit bagi banyak orang. Namun 2020 juga menjadi tahun yang memberikan optimisme baru, karena telah melahirkan beberapa tonggak baru dalam peradaban manusia.

Tahun 2020 mungkin akan dikenang sebagai tahun yang menarik, karena di masa sulit ini ada beberapa orang yang malah melompat maju, yaitu mereka yang bergerak di bisnis online. Kita melihat online shop mendapat kenaikan angka sales yang meningkat tajam. Kita juga melihat naiknya nilai bisnis di bidang kesehatan. Begitu juga bisnis courier services. Kita juga melihat konten provider di Internet menjadi lebih aktif memproduksi konten. Kita juga melihat para Youtuber atau user beberapa medsos menjadi lebih terkenal di saat pandemi ini.

Banyak hal penting yang bakal berubah, meski pandemi nanti sudah berakhir. Hampir setahun ini kita berusaha keras untuk bisa tetap berfungsi sebagai makhluk sosial, meski tak banyak berinteraksi langsung dengan orang lain di luar rumah. Kita berusaha keras agar bisa melakukan banyak hal dari rumah saja. Bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, mengendalikan mesin-mesin di pabrik dari rumah, mengendalikan pemerintahan dari rumah. Semua yang kita upayakan dengan keras ini akan terus kita terapkan, meski pandemi nanti berarkhir.

Apa artinya itu?

Sebuah optimisme baru, tentang bagaimana dunia ini bergerak sudah terbentuk, yaitu efisiensi ekonomi baru mulai terbentuk. Robot-robot atau artificial intelligence akan semakin semakin dikembangkan untuk semakin menggantikan manusia di kantor, di pabrik, atau bahkan di tempat-tempat strategis secara politik, ekonomi, dan sosial. Peran manusia akan dipertimbangkan lagi di berbagai aspek strategis dalam kehidupan sehari-hari, dan itu menyebabkan arah pendidikan akan berubah total.

Sebenarnya sudah lama work from home (WfH) itu menjadi konsep kerja yang efisien. WfH sudah lama diterapkan di berbagai perusahaan IT. WfH menghemat biaya transportasi, listrik di kantor, space untuk parkir, tunjangan kesehatan, dan tentu saja menghemat waktu yang terbuang karena melakukan perjalanan dari rumah-kantor-rumah. Sekarang WfH menjadi tuntutan mendasar bagi tiap usaha, bahkan nanti di masa pandemi telah berakhir. Bahkan ruang pengadilan tentu saja akan berubah total di tahun-tahun mendatang. Itu membuat mungkin saja peran para lawyer bisa digantikan dengan artificial intelligence.

Tahun 2020 menjadi tonggak baru, bahwa kondisi atau fungsi otak kita mudah untuk direkayasa. Riset neuroscience di 3 dekade terakhir ternyata “dipersiapkan” untuk menghadapi pandemi COVID-19. Kita bisa lolos dari stres atau depresi meski ada bencana global, sehingga kita bisa terus hidup, bahkan bisa menjadi manusia yang lebih baik di peradaban yang semakin menjadi lebih baik di tahun-tahun mendatang.

Selamat Natal 2020 dan Tahun Baru 2021.

M. Jojo Rahardjo
Bersaama istri, Desny Zacharias Rahardjo telah menulis ratusan artikel tentang berbagai riset neuroscience sejak 2015 dan puluhan video di berbagai media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *