Diskusi Online: RISET NEUROSCIENCE TENTANG TETAP TANGGUH DI MASA SULIT PANDEMI COVID-19

Diskusi Online: RISET NEUROSCIENCE TENTANG TETAP TANGGUH DI MASA SULIT PANDEMI COVID-19

MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUBUH SERTA FUNGSI OTAK AGAR TETAP CERDAS & PRODUKTIF

Selasa, 3 November 2020, PUKUL 16:00, melalui ZOOM

TERBUKA UNTUK UMUM

Pembicara:

M. Jojo Rahardjo dan Desny Zacharias Rahardjo (penulis buku “Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit”)

  • Badan kesehatan dunia dan Kementerian Kesehatan menyatakan Pandemi COVID-19 memicu gelombang stres dan depresi di mana-mana.
  • Tingkat stres & depresi bisa diukur dan bahkan bisa diukur secara online.
  • Stres apalagi depresi merusak fungsi otak sehingga otak bekerja tidak maksimal, sehingga prestasi kerja, kemampuan belajar, inovasi, kreatifitas, kemampuan memberi solusi menjadi menurun.
  • Stres & depresi menghancurkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, apalagi virus corona.
  • Banyak cara untuk mencegah atau melawan stres & depresi, namun ada cara baru yang nyaris tak dikenal di Indonesia, yaitu cara neuroscience, padahal lebih efisien berdasar pada riset ilmiah sepanjang 3 dekade terakhir.
  • Sejak tahun 2015 M. Jojo Rahardjo dan Desny Zacharias Rahardjo telah mempromosikan berbagai riset neuroscience melalui Facebook Page Membangun Positivity. Hampir semua riset itu mengenai bagaimana memaksimalkan fungsi otak dan bagaimana membuat tubuh lebih sehat atau memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Berbagai riset itu cocok untuk masa sulit, terutama di masa Pandemi COVID-19 sekarang ini.
  • M. Jojo Rahardjo dan Desny Zacharias menjelaskan melalui buku mereka “Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit”, bahwa berbagai riset neuroscience kurang populer di Indonesia, padahal di negara maju sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan berbagai kursus online tentang positivity atau kebahagiaan (memaksimalkan fungsi otak) yang diselenggarakan oleh universitas terkenal ramai diikuti jutaan orang.
  • Diskusi ini untuk membahas berbagai riset neuroscience dan cara mempraktekkannya dan memperoleh hasil yang kita harapkan, yaitu berfungsinya otak secara maksimal di masa pandemi ini dan tetap memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Diskusi ini melanjutkan diskusi sebelumnya pada September 2020 lalu (klik ini untuk menyimak videonya).

DAMPAK PANDEMI COVID-19

Masih banyak yang “mengurung diri” di rumah di Indonesia sejak tengah Maret lalu atau sejak COVID-19 merebak. Sekolah masih ditutup, begitu juga masih banyak kantor yang memperkerjakan karyawannya di rumah. Tapi ada juga kantor, usaha, resto, warung, atau pabrik yang bangkrut tak bisa kembali beroperasi sehingga harus memPHK karyawannya.

Ada yang punya uang cukup untuk bertahan hidup hingga beberapa bulan ke depan. Namun ada juga yang tak punya uang lagi dan mengandalkan bansos dari pemerintah. Ada yang “tersiksa” di rumah atau merasa tercekik stres atau depresi. Ada yang cemas bagaimana hidupnya dan keluarganya beberapa bulan mendatang. Apakah pekerjaannya masih tersedia? Apakah penghasilannya akan mengalir lagi nanti? Apakah akan tetap sehat atau selamat tak terjangkit COVID-19? Apakah Indonesia juga akan dihempas krisis ekonomi saat dunia global mengalami resesi?

Badan dunia seperti WHO atau Kementerian Kesehatan Indonesia, dan Gugus Tugas COVID-19, serta lembaga-lembaga lain sudah mengingatkan adanya gangguan kesehatan mental atau adanya gelombang stres dan depresi yang disebabkan oleh antara lain dibatasinya kegiatan di luar rumah dan social distancing. Riset atau survei juga sudah banyak dibuat untuk mengukur dampak dari pandemi ini. Stres & depresi memang tak mungkin dihindari, bahkan stres & depresi diperkirakan bakal terus berlanjut setelah COVID-19 dinyatakan berakhir yang entah kapan.


Di bawah ini kutipan dari berbagai lembaga dunia, atau lembaga kesehatan mengenai ancaman stres atau depresi yang muncul di masa pandemi COVID-19:

WHO: https://www.who.int/…/05-10-2020-covid-19-disrupting…

Kementerian Kesehatan RI: https://covid19.go.id/…/Psikologi%20Covid-ACC%20OK.pdf

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia: http://www.pdskji.org/home

Website sains: https://www.sciencemediacentre.org/covid-19-can-we…/

BBC tentang kursus online soal kesehatan mental: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52061527

Business Insider (tentang kursus online soal kesehatan mental: https://www.businessinsider.sg/coursera-yale-science-of…


APA YANG DIKUATIRKAN DARI STRES ATAU DEPRESI?

Stres atau depresi bisa menurunkan fungsi otak, sehingga prestasi kerja, kemampuan belajar, inovasi, kreatifitas, kemampuan memberi solusi menjadi menurun. Bahkan kesehatan tubuh pun menurun, sehingga mudah sakit. Bagi mereka yang bergerak di bidang SDM, itu berarti turunnya produktivitas. Tentu saja ituadalah sebuah masalah yang serius bagi sebuah organisasi, lembaga atau perusahaan, bahkan bagi sebuah negeri.

Jika produktivitas jutaan orang di sebuah negeri menurun, maka itu adalah sebuah persoalan yang serius.

Bagi mereka yang peduli dengan prestasinya, tentu menurunnya fungsi otak adalah sebuah masalah yang harus dihindari. Kita tentu tak mau, kemampuan kita dalam memberi solusi menurun, kemampuan belajar kita menurun, kreativitas atau inovasi menurun. Kita tentu ingin tetap bersinar, produktif dan berprestasi, bertubuh sehat dan tetap menjadi orang baik yang cenderung pada kebajikan atau tetap memiliki spiritualitas.


ADAKAH CARA UNTUK MENURUNKAN TINGKAT STRES ATAU DEPRESI? ADAKAH CARA YANG ILMIAH ATAU SUDAH TERBUKTI MELALUI RISET? ADAKAH CARA YANG MUDAH, TIDAK BERBELIT-BELIT?

Ada!

Neuroscience telah melakukan berbagai riset sekitar 3 dekade terakhir ini untuk mencari tahu bagaimana cara untuk mengeluarkan potensi positif yang kita miliki atau memaksimalkan fungsi otak. Hasil-hasil riset itu sudah ditulis dalam berbagai buku atau artikel ilmiah yang tersebar di berbagai media. Bahkan ada juga yang dalam bentuk video. Mereka mendisain berbagai tips yang mudah untuk diaplikasikan oleh siapa saja dan menghasilkan perubahan yang besar.

Sayangnya berbagai riset ini tak terlalu populer di Indonesia.

Memaksimalkan fungsi otak saat ini bisa dilakukan oleh siapa pun dan bisa memperoleh hasil hanya dalam hitungan hari atau minggu. Saat fungsi otak meningkat, maka saat itu pula berbagai potensi positif yang kita miliki pun meningkat. Dan secara otomatis pun tingkat stres atau depresi pun menurun.

Ini kabar baiknya:

Kita tak perlu mencari dan membaca tulisan atau buku, juga video hasil riset neuroscience atau positive psychology itu, karena sejak tahun 2015 sudah ada Facebook Page yang rajin membuat ringkasan dari hasil-hasil riset itu.

Facebook Page ini memang khusus mempromosikan berbagai riset neuroscience. Facebook Page ini dikelola oleh Komunitas Membangun Positivity. Jumlah tulisannya sudah ratusan dan puluhan video. Bahkan sebagian dalam bentuk tips yang praktis dan tentu mudah diaplikasikan.

Komunitas Membangun Positivity juga telah menerbitkan 3 ebooks. Bulan Maret lalu terbit ebook ketiga berjudul “Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit”. Inti dari ebook ini adalah: membangun resilience dengan 5 tips yang disusun dari berbagai riset neuroscience tentang bagaimana memaksimalkan fungsi otak setiap waktu, sehingga saat datang masa sulit, maka kita tidak akan terlalu jatuh terpuruk, bahkan dapat bangkit dengan mudah dan bersinar lagi. Ebook ini amat cocok untuk situasi pandemi COVID-19 sekarang. Lima tips itu yang akan dibahas dalam diskusi online mendatang yang berjudul “Riset Neuroscience tentang Tetap Tangguh di Masa Sulit Pandemi COVID-19” pada tanggal Selasa, 3 November 2020 nanti.

Yuk ikut! Mungkin ini topik pertama di Indonesia yang diangkat dalam diskusi online.

Diskusi ini adalah lanjutan dari diskusi sebelumnya 19 September 2020 lalu bertopik “Cara Baru Meningkatkan Immune System”. Klik ini untuk menyimak diskusinya: https://web.facebook.com/membangunpositivity/posts/2753099231677727 .

Diskusi kali ini akan membahas lebih dalam tentang membangun resilience dengan 5 tips yang disampaikan dalam ebook tersebut di atas, yaitu:

  1. Meditasi (tak ada kaitan dengan kepercayaan apapun)
  2. Bersyukur (dirumuskan berdasar pada riset neuroscience)
  3. Kebajikan (praktek yang sudah biasa kita lakukan sehari-hari ini mendapatkan penjelasan ilmiah dari neuroscience)
  4. Relationships (pentingnya menjaga tali silaturahmi dengan pasangan, keluarga, saudara, teman, hingga masyarakat)
  5. Olahraga (penjelasan ilmiah tentang bagaimana olahraga mengubah hidup anda menjadi lebih baik)

Semua tips disusun dari berbagai riset neuroscience sepanjang 3 dekade terakhir.


One Comment to “Diskusi Online: RISET NEUROSCIENCE TENTANG TETAP TANGGUH DI MASA SULIT PANDEMI COVID-19”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *