Gelombang Depresi dan Keseriusan Pemerintah Menanganinya

WHO, Kementerian Kesehatan RI, dan badan-badan terkait lainnya sudah memperingatkan tentang ada potensi gelombang stres dan depresi karena adanya wabah COVID-19 yang melanda dunia. Stres dan depresi tentu harus kita hindari, karena menurunkan immune system dan menurunkan juga produktivitas kita.

Meski demikian, kebanyakan pemerintah di dunia kurang memiliki perhatian serius mengenai kesehatan mental ini. Menurut WHO, kebanyakan pemerintah di dunia hanya mengalokasikan sekitar 3% dari seluruh anggaran untuk menanangani kesehatan mental warganya. Akibatnya, hanya 10% dari seluruh penderita depresi yang ditangani. Padahal, masih menurut WHO, kerugian yang ditimbulkan oleh depresi adalah 1 triliun dolar per tahun secara global, karena depresi menurunkan produktivitas dan membuat gangguan kesehatan.

Persoalan anggaran adalah persoalan klasik. Mungkin kebanyakan orang berpikir, jika anggaran ada, maka depresi yang ada di masyarakat bisa ditangani. Betulkah begitu? Tentu tidak begitu, karena menangani depresi bisa relatif mahal dan hasilnya memerlukan waktu yang lama, jika masih menggunakan pendekatan sains lama. Padahal ada sains baru, yaitu positive psychology atau neuroscience yang berkembang sepanjang lebih dari 2 dekade terakhir. Sains baru ini menawarkan pendekatan yang lebih praktis. Sayangnya, ahli dalam sains ini belum terlalu banyak di Indonesia. Itu terlihat dari tulisan atau yang buku masih terlalu sedikit mengenai ini di Indonesia.

Saya, M. Jojo Rahardjo telah menulis ratusan tulisan mengenai berbagai hasil penelitian positive psychology atau neurosience sejak tahun 2015. Itu saya lakukan dalam rangka mempromosikan sains baru yang amat berguna ini. Bahkan saya juga membuat puluhan video tentang topik yang sama. Kumpulan tulisan ini saya jadikan 2 ebooks.

Baru-baru ini saya terbitkan satu lagi ebook, berjudul “Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit“. Ebook ini saya terbitkan untuk membantu mereka yang sedang berjuang melawan COVID-19, seperti dokter, tenaga medis, mereka yang sedang #DiRumahAja, atau siapa pun yang terdampak oleh COVID-19.

Pertanyaan kita sekarang: Apakah pemerintah Indonesia sudah serius menangani adanya gelombang stres dan depresi ini? Apakah sudah ada program untuk mencegah bertambahnya gangguan kesehatan dan penurunan produktivitas masyarakat?

M. Jojo Rahardjo


Kementerian Kesehatan RI juga menerbitkan buku yang bisa kita baca di sini:

Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *