KEKERASAN PADA REMAJA; APA KATA NEUROSCIENCE & APA SOLUSINYA?

Kasus kekerasan di kalangan remaja terus marak. Baru-baru ini ramai di media tentang video seorang remaja putri di Purworejo dianiaya oleh teman-temannya di sekolah.

Sebelumnya ada video dari Malang yang mengejutkan tentang seorang siswa SMP di Malang menjadi korban kekerasan yang dilakukan teman-temannya sendiri di sekolah. Korban dibanting ke lantai dan ke pohon. Jari siswa tersebut terpaksa harus diamputasi karena luka yang parah. Yang juga mengejutkan adalah, korban tak melaporkan kejadian ini kepada polisi, padahal ia menderita kerugian dan pelakunya melakukan pelanggaran hukum. Peristiwa ini dilaporkan justru oleh orang lain.

Para pelaku kemudian mengaku bahwa perbuatan kekerasan itu mereka lakukan karena iseng, karena guyon. Beberapa media mengungkap, bahwa kekerasan ini adalah puncak setelah korban dibully (kekerasan verbal) sebelumnya selama beberapa waktu. Lalu hari yang naas itu, korban dianggap tak menaruh hormat pada para pelaku, sehingga pelaku melakukan kekerasan itu.

Apakah pelaku kekerasan itu tak memiliki kondisi otak yang positif atau tak memiliki positivity? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya sampaikan saja angka-angka yang diberikan oleh WHO berikut ini:

  1. Gangguan mental (stres atau depresi, dll) sudah terjadi pada remaja sejak usia 14 tahun. Sayangnya kebanyakan tak terdeteksi dan tak ditangani.

Rata-rata pemerintah di seluruh dunia memang memiliki anggaran yang sedikit untuk gangguan mental ini. Pemerintah biasanya membuat anggaran besar untuk penyakit seperti kanker dan lain-lain.

  1. Mereka yang terdampak oleh adanya gangguan mental sebesar 16% adalah remaja berusia 10-19 tahun.

Ini artinya mungkin korban adalah akibat dari adanya gangguan mental yang diderita oleh teman-teman yang melakukan perbuatan kekerasan itu. Namun korban akhirnya juga mengalami gangguan mental yang serius, karena tak bisa mengatasi kekerasan dari teman-temannya yang mentalnya terganggu itu.

  1. Depresi mengurangi produktivitas, menyebabkan gangguan kesehatan dan merusak relationships.

Relationships yang baik, tentu bukan dengan melakukan kekerasan verbal, apalagi kekerasan fisik seperti yang dilakukan oleh para pelaku itu.

  1. Ada 300 juta orang di seluruh dunia menderita depresi.

Penderita depresi ini sama dengan memiliki gangguan mental. Ada banyak penderita depresi di sekitar kita, tapi kita cenderung untuk mengabaikannya. Pemerintah juga mengabaikan soal ini.

  1. Penderita depresi bisa saja tetap bekerja atau belajar di sekolah, dan bahkan melakukan aktivitas sosial lainnya, namun penderita depresi hanya menghasilkan kualitas yang terbatas.

Sebenarnya bukan hanya kualitas mereka yang terbatas, tapi penderita depresi juga mampu melakukan perbuatan yang melanggar hukum, seperti melakukan kekerasan pada teman-temannya. Jika para penderita depresi berkumpul, maka mereka bisa melakukan kekerasan secara bersama-sama.

Jadi mereka para pelaku ini stres atau depresi? Saya menjawabnya: mereka menderita gangguan mental atau secara umum mereka tak memiliki positivity (kondisi otak yang positif).

Sekarang pertanyaan selanjutnya: Bagaimana agar mereka memiliki positivity?

Neuroscience sudah melakukan banyak riset mengenai ini. Khusus untuk remaja di sekolah sudah ada program yang dibuat oleh pionir neuroscience, yaitu Martin Seligman. Programnya ini: THE PENN RESILIENCE PROGRAM FOR MIDDLE SCHOOL STUDENDS. Buka aja websitenya di sini: https://ppc.sas.upenn.edu/research/re…

Ada lagi tips lain untuk memiliki posivity di sini: https://membangunpositivity.com . Tips ini adalah rangkuman dari berbagai tips yang diberikan oleh berbagai neuroscientists terkenal dari seluruh dunia.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *