UANG DAN POSITIVITY

Gubernur, walikota, bupati, menteri, presiden atau jabatan di pemerintahan lainnya sebaiknya dipegang oleh orang yang memiliki positivity yang cukup, agar positivity yang dimilikinya ikut tersebar, bukan malah menebar kerusakan atau negativity yang dimilikinya.

Video ini juga tentang bagaimana memanfaatkan uang untuk menumbuhkan positivity. Jangan seperti mereka yang memiliki uang tapi tetap tak memiliki positivity atau kebahagiaan, alias tetap mudah stres, depresi, cemas, hingga mudah marah, atau bertingkah konyol atau bodoh, bahkan merugikan orang lain.


UANG DAN POSITIVITY
Bisakah Uang Membeli Positivity?

Sebelumnya kita harus mendefinisikan dahulu apa itu kebahagiaan. Jika kita googling ternyata ada terlalu banyak definisi untuk kebahagiaan. Saya tentu ambil definisi kebahagiaan yang lebih ilmiah, yaitu dari neuroscience. Ini definisinya: sebuah kondisi di otak dimana otak berfungsi maksimal, yaitu lebih cerdas, kreatif, inovatif, penuh solusi, tak mudah stres atau depresi, mudah kembali kuat setelah situasi krisis, tubuh lebih sehat. Dan yang paling penting dari semuanya adalah lebih cenderung pada kebajikan (peduli pada kepentingan orang lain melebihi kepentingan dirinya sendiri). Atau lebih memiliki Golden Rule.

Kondisi otak yang demikian sering disebut oleh neuroscience sebagai memiliki positivity.

Nah, apakah uang bisa memberikan itu semua? Apakah uang bisa memberikan kebahagiaan yg didefinisikan oleh neuroscience?

Uang ternyata dalam taraf tertentu memang bisa meningkatkan kebahagiaan. Namun setelah jumlah tertentu tak bisa meningkatkan kebahagiaan. Jadi jika uang tambah banyak, bukan berarti tambah kebahagiaan.

Orang yg tak punya uang tentu mudah diliputi kecemasan tentang apa yang bisa dimakan hari ini atau esok. Juga soal membayar atau memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Soal kesempatan bagaimana mengubah nasib atau memperbaiki karir atau mata pencaharian. Atau tak bisa melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan kebahagiaan, seperti olahraga, atau berlibur ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Bahkan tak bisa berbuat kebajikan, seperti menolong teman atau orang lain yang bisa meningkatkan kebahagiaan.

Itu tentu berarti mereka kurang memperoleh kesempatan untuk membangun positivity dibanding mereka yang memiliki uang.

Sedangkan mereka yang punya uang jika mereka menggunakannya dengan tepat, maka kebahagiaan mereka bisa meningkat. Menurut penelitian membeli benda-benda yang digunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri tidak meningkatkan kebahagiaan secara signifikan atau tak bertahan lama. Kecuali benda-benda itu digunakan untuk menolong orang lain. Atau digunakan untuk membangun relationships yang lebih berkualitas dengan orang orang di sekitar atau yang lebih luas, misalnya masyarakat.

Mereka yg memiliki kekuasaan, seperti gubernur, walikota, atau presiden, pengusaha sukses atau lainnya adalah orang orang bisa disebut memiliki uang yg cukup untuk melakukan beberapa kegiatan yg bisa untuk meningkatkan kebahagiaannya. Mereka tentu memiliki gaji atau penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Kelebihannya bisa digunakan untuk meningkatkan kebahagiannya. Bahkan mereka memiliki sumber daya juga.

Apa saja yang menurut neuroscience bisa dilakukan untuk meningkatkan kebahagian atau positivity? Tadi saya sudah menyebut beberapa kegiatan. Dalam tulisan saya yang lain saya menyebutkan dengan lebih detil. Silakan lihat.

Gubernur, walikota, bupati, atau jabatan jabatan lain di pemerintahan tentu artinya bisa lebih banyak lagi kesempatan untuk melakukan kegiatan untuk membangun positivity atau kebahagiaan. Bukan hanya uang yang mereka miliki, tapi juga sumber daya. Jika mereka tak memanfaatkannya, maka mereka tak memiliki positivity yang cukup. Jika mereka tak memiliki positivity yang cukup, maka positivity-nya akan terlihat dalam kebijakan yang dikeluarkan, juga dalam langkah atau tindakan mereka sehari-hari atau terutama pada situasi krisis, seperti banjir atau bencana alam lainnya.

Tidak melakukan persiapan saat akan memasuki musim cuaca buruk, itu tanda tak memiliki kepedulian pada orang lain (warga). Terus membela diri saat dikritik tanpa melakukan perbaikan itu juga tanda tak memiliki positivity.

Seperti yang sudah saya sebutkan di bagian awal, otak yang dalam kondisi negatif akan tidak berfungsi maksimal. Otak seperti ini tak mampu memberi solusi di saat menghadapi situasi krisis. Otak juga tak memiliki kecenderungan pada kebajikan. Otak ini tak peduli pada keselamatan atau kesejahteraan warga. Otak seperti ini harus diperbaiki. Otak seperti ini nyaris tak bisa diperbaiki hanya dengan mengkritiknya atau menghukumnya, karena itu hanya akan menambah negativity di otaknya. Itu buruk, karena hanya akan menjadikannya Joker.

Namun neuroscience memiliki beberapa tips untuk itu. Berbagai tips neuroscience itu sudah saya jelaskan dalam berbagai tulisan dan video saya.

M. Jojo Rahardjo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *