PENGALAMAN SAYA MENERAPKAN TIPS NEUROSCIENCE

Saya membuat banyak tulisan, meme, dan video tentang hasil-hasil penelitian neuroscience sepanjanga 2015 hingga sekarang. Itu membuat saya sering ditanya orang, apakah saya sudah menerapkan berbagai tips neuroscience itu?

Apa jawab saya?


Video ini salah satu dari rangkaian video di Youtube Channel saya, Membangun Positivity. Kali ini tentang pengalaman saya menjalankan berbagai tips neurosience.

Saya menulis atau membuat video dan menyebarkannya melalui media sosial tentang berbagai tips yang diberikan neuroscience untuk memaksimalkan fungsi otak. Tentu saja itu membuat saya cukup sering ditanya orang, apakah saya sudah membuktikan tips itu pada diri saya sendiri.

Saya menjawabnya begini:

Saya mulai intens menjalankan beberapa tips neuroscience sejak tahun 2014. Tentu tidak semua tips saya jalankan. Yang tak pernah saya tinggalkan adalah meditasi. Saya melakukan beberapa kali meditasi dalam sehari. Juga bersyukur. Neuroscience mendefinisikan kegiatan bersyukur dengan “Menulis Jurnal”, karena apa yang kita syukuri ditulis di atas kertas atau secara digital. Saya juga melakukan olahraga. Dan tentu melakukan setidaknya 1 kebajikan setiap hari. Yang terakhir adalah berusaha keras membangun relationships yang bagus dengan orang-orang sekitar saya, terutama keluarga dekat.

Itu beberapa tips neuroscience yang saya kerjakan.

Tahun 2015 saya mencatat produktivitas saya meningkat tajam. Di tahun ini saya menulis 1 artikel per hari untuk sebuah website. Semua artikel adalah intisari dari berbagai hasil riset neuroscience yang saya lakukan selama 60 hari nonstop. Jadi hasilnya adalah 60 artikel.

Ada 3 buku yang saya tulis dalam tahun 2015 ini. Satu buku yang berisi 300 halaman yang berisi tentang 5 puisi esai (puisi panjang bercatatan kaki). Satu buku lagi diterbitkan di luar negeri berisi intisari dari belasan buku tentang agama dan politik. Dan buku yang terakhir adalah buku “Membangun Positivity”.

Kemudian di tahun 2016 saya terlibat dalam sebuah LSM untuk bencana alam di Indonesia. Saat di sana saya menghasilkan ratusan artikel tentang bencana alam, terutama gempa bumi. Juga saya mulai menjadi pembicara atau pembawa acara diskusi dan seminar. Tahun 2018 (dua tahun kemudian) beberapa media menyebut saya sebagai pakar gempa, meski saya lebih senang disebut pemerhati bencana alam. Setiap kali terjadi bencana gempa bumi saya sering dihubungi berbagai media. Salah satunya adalah Metro TV yang mengundang saya ke studionya untuk diwawancarai. Nama saya tentu bisa digoogling ya.

Selain produktivitas yang meningkat tajam itu, saya juga terkejut, karena ada banyak gangguan kesehatan yang dulu menghinggapi saya, lalu sekarang menghilang. Ini daftar gangguan kesehatan saya di masa lalu:

  • Sakit kepala yang membuat saya selalu membawa obat sakit kepala kemanapun.
  • Flu yang kerap datang setidaknya sekali dalam sebulan.
  • Sariawan di mulut.
  • Radang pencernaan hingga demam tinggi.
  • Gangguan di lambung.
  • Kram di kaki.
  • Alergi di kulit.

Semua gangguan kesehatan itu lenyap, kecuali 1, yaitu gangguan lambung yang masih kadang muncul.

Dulu saya mengira, gangguan kesehatan itu hanya akan hilang jika saya hidup di sebuah desa dan tak memikirkan kehidupan kota yang hiruk pikuk, serta memakan apa yang saya tanam di kebun sendiri. Ternyata saya tak perlu melakukan itu untuk menghilangkan semua gangguan kesehatan. Sekarang saya sudah kehilangan semua gangguan kesehatan itu, padahal saya sekarang masih terus berjibaku dengan lalu-lintas Jakarta yang keras. Saya masih terus mengejar target-target kerja saya. Saya masih terus harus menghadapi berbagai tantangan hidup atau hambatan hidup setiap hari.

Itulah jawaban saya pada mereka yang bertanya, apakah saya sudah membuktikan semua tips yang diberikan oleh neuroscience.

Sekarang kenapa anda tak mencobanya? Gratis dan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *