BAGAIMANA MENGURANGI DAMPAK PERISTIWA NEGATIF DI SEKITAR KITA PADA OTAK KITA

Video ini salah satu dari rangkaian video di Youtube channel saya, Membangun Positivity. Kali ini tentang apa saja yang membuat otak kita tak berada dalam kondisi maksimal.

Pagi-pagi bangun lihat ada kendaraan orang terparkir di dekat pintu gerbang rumah. Terbayang sebentar lagi, saat mau keluar rumah akan mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kendaraan saya. Pasti akan mundur dan maju beberapa kali sebelum bisa berhasil keluar dari rumah.

Kejadian ini menurut neuroscience mempengaruhi otak kita.

Lalu saat melihat jadwal kegiatan hari ini, muncul peringatan, bahwa hari ini menunggu panggilan dari imigrasi. Muncul kekuatiran, jika hari ini tak dipanggil ke imigrasi, maka paspor akan terlambar diterbitkan, padahal akan digunakan dalam beberapa hari lagi.

Kejadian ini juga mempengaruhi otak kita. Masih banyak lagi kejadian lain yang bisa mempengaruhi otak kita. Termasuk apa yang kita baca atau kita tonton melalui media, misalnya media sosial.

Apa pengaruh kejadian-kejadian seperti ini di otak kita? Neuroscience menyebut kejadian-kejadian tersebut memberi negativity di otak kita. Karena ada kecemasan, kekesalan, atau juga kesiagaan yang meninggi, maka muncul hormon cortisol di otak. Hormon cortisol ini sebenarnya baik, karena membantu kita di saat kritis untuk lebih bertenaga dan cepat bertindak. Namun cortisol tak boleh terlalu lama berada di otak, terutama jika tak diperlukan. Akan ada beberapa gangguan kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, atau gangguan pencernaan, dan jantung, serta masih ada lagi yang lainnya.

Sejak lama kita mendengar berbagai nasihat untuk menghadapi kejadian-kejadian seperti di atas. Misalnya kita diminta untuk menjadi orang yang sabar, atau menjadi orang baik saat orang lain melakukan sesuatu yang kurang baik pada kita. Nasihat itu tentu bagus sekali jika kita bisa menjalankannya. Namun nasihat seperti ini sebenarnya lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Meski demikian nasihat seperti itu bagus untuk diupayakan.

Nah, neuroscience memiliki cara lain untuk menghadapi kejadian-kejadian seperti itu. Apalagi kalau bukan dengan meditasi. Dalam tulisan atau video saya yang lain sudah saya sebutkan tentang bagaimana melakukan meditasi menurut neuroscience, yaitu fokus memperhatikan tarikan dan hembusan nafas. Itu saja. Tentu dengan mata terpejam agar lebih bisa fokus. Meditasi ini bisa dilakukan dengan bersila, duduk atau berdiri. Dan tentu saja kapan saja bisa dilakukan.

Mungkin sudah ribuan penelitian dilakukan pada meditasi. Hasilnya menunjukkan, bahwa meditasi bisa menyeimbangkan hormon-hormon penting di otak, sehingga otak akan lebih memiliki positivity atau dengan kata lain: kondisi otak akan lebih berada dalam keadaan baik dan bisa berfungsi maksimal.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *