APA KATA NEUROSCIENCE TENTANG SULIT TIDUR?

Video ini adalah salah satu dari rangkaian video di Youtube Channel saya, Membangun Positivity.

Gak sedikit teman kita atau anggota keluarga kita yang mengeluh susah tidur. Saya bertanya pada mereka: Ada yang membuat mereka stress? Apa jawab mereka biasanya: Gak ada. Biasa aja. Paling urusan kantor yang biasa, sekolah atau urusan rumah.

Saya percaya mereka gak mengada-ada. Saya percaya, bahwa mereka memang berpikir tak ada persoalan serius yang sedang mereka alami. Mereka memang percaya bahwa gangguan tidurnya tak berkaitan dengan apa yang mereka alami sehari-hari.

Sayangnya, gangguan tidur itu menjadi persoalan baru. Misalnya siang hari mereka menjadi ngantuk, tak bertenaga, susah konsentrasi, menjadi mudah marah dan lain-lain. Padahal mereka ada yang di posisi penting di perusahaan atau organisasi. Ada yang sedang bersekolah di perguruan tinggi. Ada yang sedang mengerjakan proyek penting. Ada yang sedang mencoba keluar dari krisis manajemen misalnya. Dan lain-lain. Tentu ini sangat mengganggu dan membuat frustasi, atau malah menambah stres.

Mengapa kita mengalami gangguan tidur?

Penelitian neuroscience menunjukkan, bahwa pikiran itu sebenarnya tak pernah bisa berhenti bekerja. Pikiran selalu melayang kemana-mana. Apakah itu buruk? Tentu tidak. Banyak karya besar atau seni, bahkan penemuan-penemuan yang dihasilkan dari pikiran yang selalu melayang kemana-mana ini. Untuk seniman, misalnya seniman lukis, ini tentu bagus, karena saat ia memperoleh inspirasi (dari pikiran yang melayang-layang itu) langsung ia tuangkan ke dalam kanvasnya. Namun bagi yang mendapat inspirasi tentang sebuah mesin dengan cara kerja baru, tentu tak bisa langsung diwujudkan, karena harus melakukan riset dahulu atau mengadakan bahan atau alat-alat yang bakal diperlukan. Nah, gangguan tidur ini tentu bakal menghambat proses untuk mewujudkan inspirasi yang sudah dimilikinya ini. Kadang inspirasi ini menjadi menguap setelah beberapa waktu atau terlupakan. Itu juga menambah stres.

Meski pikiran yang melayang-layang ini berguna, namun Neuroscience menyebutkan, bahwa aktivitas pikiran ini memberikan dampak buruk. Stres tentu, karena kadang pikiran melayang ke masa lalu yang buruk atau ke depan membayangkan sesuatu yang buruk bakal terjadi. Jelas itu menghasilkan stres. Dalam beberapa video saya yang lain, sudah saya sebutkan, bahwa ada beberapa aktivitas atau faktor di luar diri kita yang bisa memberikan negativity pada kita. Sekarang aktivitas pikiran kita yang selalu melayang-layang itu juga memberi sumbangan negativity.

Barbara Fredrickson menyebut positivity ratio harus 3:1, yaitu 3 positivity 1 negativity. Jika negativity kita lebih besar dari ratio itu, maka akan muncul hormon cortisol. Jika hormon cortisol terlalu banyak dan terlalu lama muncul, maka akan muncul gangguan tidur. Jika muncul gangguan tidur, maka produktivitas kita akan menurun, prestasi juga menurun, kualitas relationships kita juga menurun, kesehatan juga pasti menurun, bahkan perilaku kita juga akan terganggu.

Lalu bagaimana meminimalisir dampak pikiran yang selalu melayang-layang ini?

Meditasi saja. Ya, meditasi saja. Silahkan lihat video-video saya yang lain tentang apa itu meditasi dan bagaimana melakukannya.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *