Gambar: https://tribunnews.com

PDB Per Kapita dan Pembangunan SDM dalam Pidato Jokowi

Gambar: https://tribunnews.com

Kita tentu bersemangat saat Presiden Jokowi menyampaikan mimpinya dalam pidato pelantikannya 20 Oktober 2019 lalu, yaitu akan menggenjot PDB (GDP) per kapita agar menjadi RP 27 juta per bulan di tahun 2045.

Mengapa begitu?

Indikator pertama yang diukur oleh “World Happiness Report” yang diterbitkan tiap tahun oleh PBB sejak 2012 adalah GDP per capita. Semakin tinggi GDP per capita, maka semakin tinggi kemampuan negara dalam mengupayakan happiness, (yang sering juga disebut positivity oleh para neuroscientists) atau kebahagiaan yang lengkap bagi rakyatnya.

Mengapa saat ini kita perlu mengedapankan soal happiness, positivity atau kebahagiaan lengkap bagi rakyat?

Dulu, salah satu cara mengukur tingkat kemajuan sebuah negeri adalah dengan menggunakan “Human Development Index”. Namun sejak tahun 2012 ‘World Happiness Report” menjadi lebih populer sebagai cara baru untuk mengukur tingkat kemajuan sebuah negeri.

Diukur dengan yang mana pun, Indonesia saat ini tetap berada di peringkat yang rendah. “Human Development Index” yang juga diterbitkan oleh PBB, menempatkan Indonesia tertinggal jauh dari negeri-negeri lain. Begitu juga jika diukur dengan “World Happiness Report”.

“World Happiness Report” yang disusun oleh para pakar neuroscience ini mengukur lebih banyak indikator, yaitu 6 indikator: 1. GDP per capita, 2. Social support, 3. Health life expectancy at birth, 4. Freedom to make life choices, 5. Generosity, 6. Perception of corruption. Indonesia berada di urutan yang buruk jika 6 indikator ini digabung. Indonesia berada di urutan 92 di bawah negeri-negeri Asia lain dan negeri-negeri di Amerika Latin.

GDP per capitaRP 27 juta per bulan adalah mimpi Jokowi yang tentu sudah diperhitungkan cara mewujudkannya oleh para ahli di pemerintahannya. Jadi itu bukan mimpi di siang bolong dan tentu mimpi ini juga mimpi kita bersama.

Setelah menyebut soal GDP per capita di bagian awal pidatonya, Jokowi juga menjelaskan tentang 5 program pembangunan utamanya yang menempatkan Pembangunan SDM di prioritas pertama dalam 5 program pembangunan utama pemerintah lainnya, yaitu: yang kedua, melanjutkan pembangunan infrastruktur. Ketiga, menyederhanakan (memotong, memangkas) segala bentuk kendala regulasi. Keempat, penyederhanaan birokrasi secara besar-besaran. Kelima, transformasi ekonomi.

Tentu itu juga membuat kita bersemangat.

Kata “SDM” sudah disebut sejak pidato kemenangan Jokowi beberapa bulan lalu, meski cuma disebut 1 kali dalam pidato di depan Sidang Tahunan MPR lalu. Sedangkan di pidato lainnya, yaitu Pidato Kenegaraan 2019, Jokowi menyebut 14 kali kata “SDM”.

Meski pembangunan SDM nampak penting, namun Jokowi tidak menjelaskan bagaimana cara membangun SDM Indonesia. Ini kutipannya:

“Saya mengajak semua Lembaga-Lembaga Negara untuk membangun sinergi yang kuat guna menyelesaikan tugas sejarah kita. Mendukung lompatan-lompatan kemajuan untuk mengentaskan kemiskinan, menekan ketimpangan, dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Bergandengan tangan menghadapi ancaman intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Serta ikut serta melahirkan lebih banyak lagi SDM-SDM unggul yang membawa kemajuan bangsa.”

Sedangkan pada pidato Jokowi kemarin, Minggu 20 Oktober 2019, saat pelantikannya sebagai presiden terpilih, ia juga menyampaikan soal pembangunan SDM sebagai prioritas pertama pemerintah Jokowi di periode keduanya nanti. Ini kutipannya:

“Potensi kita untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah sangat besar. Saat ini, kita sedang berada di puncak bonus demografi, di mana penduduk usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif.

Ini adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan lapangan kerja.

Tapi akan menjadi kesempatan besar, peluang besar, jika kita mampu membangun SDM yang unggul. Dan dengan didukung oleh ekosistem politik yang kondusif dan didukung oleh ekosistem ekonomi yang kondusif.

Oleh karena itu, lima tahun ke depan yang ingin kita kerjakan:

Yang pertama, pembangunan SDM. Pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama kita.

Membangun SDM yang pekerja keras, yang dinamis. Membangun SDM yang terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengundang talenta-talenta global untuk bekerja sama dengan kita.

Itu pun, tidak bisa diraih dengan cara-cara lama. Cara-cara baru harus dikembangkan. Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita.”

–00—

Semoga di periode kedua pemerintahan Jokowi nanti akan ada konsep yang jelas dalam membangun SDM. Setidaknya konsep itu berdasarkan ilmu pengetahuan. Indonesia telah merdeka sepanjang 74 tahun, lebih lama daripada negeri-negeri lain di sekitarnya. Kekayaan alam Indonesia melebihi negeri-negeri lain di sekitarnya. Kekayaan budaya Indonesia melebihi tempat mana pun di dunia di beberapa abad terakhir ini. Namun Indonesia tertinggal dari negeri-negeri tetangga, bahkan oleh negeri yang tak memiliki kekayaan alam.

Semoga pemerintah Jokowi bisa menerapkan konsep membangun SDM yang sudah dibangun oleh para ahli neuroscience sepanjang 2 dekade terakhir di seluruh dunia. Konsep neuroscience adalah cara ilmiah mengembangkan potensi positif yang dimiliki otak agar lebih cerdas (kompetitif), penuh solusi, kreatif, inovatif, tahan terhadap tekanan atau depresi, dan lebih cenderung pada kebajikan, bahkan tubuh lebih sehat.

Kita tentu membutuhkan kondisi otak yang positif untuk membangun SDM Unggul, karena belajar apa pun kita akan lebih mudah. Mencari solusi dari berbagai persoalan menjadi lebih mudah. Bahkan kita akan lebih kreatif dan inovatif. Yang lebih penting adalah kondisi otak yang positif menjadikan kita lebih tahan terhadap tekanan atau depresi. Lebih dari itu kita bahkan akan lebih cenderung pada kebajikan (lebih manusiawi).

–000—

SDM Unggul melalui resilience

Sebagaimana kita tahu, setiap orang pasti menghadapi berbagai tantangan atau gangguan dalam hidupnya, seperti:

  • Krisis keuangan
  • Krisis relationships seputar rumah tangga atau kehidupan berpasangan
  • Krisis kesehatan karena penyakit atau kecelakaan
  • Kehilangan orang yang dicintai atau dijadikan tempat bergantung
  • Tragedi karena bencana (alam, sosial, politik)
  • Tekanan lingkungan sekitar (pekerjaan, sekolah, karir, bisnis, rasialisme, agama, suku, orientasi seksual, golongan atau kelompok)

Kondisi otak yang selalu positif akan menjadikan kita terus tangguh menghadapi berbagai tantangan atau gangguan itu. Kita tak akan mudah terpuruk. Kita akan cepat bangkit kembali dan menjalani hidup atau meniti rencana-rencana hidup yang sudah disusun sebelumnya. Bukan itu saja, jika kita tidak sedang menghadapi tantangan dan gangguan hidup itu, maka kita akan lebih mudah menjadi individu dengan SDM Unggul seperti yang disebut Jokowi itu.

Kemampuan untuk menghadapi tantangan atau gangguan dalam hidup itu disebut oleh neuroscience sebagai resilience atau ketangguhan dalam hidup. Beberapa orang sudah memiliki resilience ini sejak lahir. Sedangkan kebanyakan orang tak memiliki resilience, sehingga mereka harus mempelajarinya untuk memiliki resilience. Bagaimana kita bisa memperoleh kondisi otak yang positif seperti yang sudah ditemukan oleh neuroscience?

Seperti Jokowi sebut dalam pidatonya beberapa bulan lalu dalam pidato kemenangannya dalam pilpres lalu: “kita harus mencari model baru atau cara baru untuk membangun Indonesia”. Neuroscience menawarkan cara baru dalam membangun SDM melalui berbagai penelitiannya di seluruh dunia. Selama lebih dari 20 tahun neuroscience tak hanya melakukan penelitian, tetapi juga melakukan penerapannya di seluruh dunia.

World Happiness Report” adalah pengakuan paling penting dunia pada apa yang telah dicapai oleh neuroscience. Sekarang dunia memiliki sebuah ukuran baru, yaitu neuroscience dalam mengukur manusia, dan mengukur kemajuan sebuah negeri. Para neuroscientists bersama-sama menyusun indikator dan menerbitkannya tiap tahun untuk menentukan negeri-negeri mana yang berada pada rangking pertama dan seterusnya. Sebanyak lebih dari 250 negeri di dunia dibuatkan surveynya berdasarkan 6 indikator yang telah disebutkan di atas.

Jadi, neuroscience sudah menjadi tren dunia. Apalagi jika dilihat dari berbagai penerapannya di seluruh dunia. Kisah sukses neuroscience sebagai solusi produktivitas bagi perusahaan atau organisasi bertebaran di berbagai media. Demikian juga penerapan neuroscience sebagai solusi bagi pelajar bermasalah juga bertebaran di mana-mana. Juga solusi bagi pengembangan kesehatan masyarakat.

Mungkin neuroscience belum terlalu populer di Indonesia. Namun sudah ada buku yang ditulis, meski masih dalam bahasa yang tak terlalu populer. Juga sudah ada diskusi atau seminar mengenai topik ini. Namun yang pasti belum terlalu banyak penulis dengan bahasa populer yang giat mengkampanyekan pencapaian neuroscience dalam membangun SDM di Indonesia.

Di Internet sekarang bertebaran berbagai sosialisasi temuan neuroscience untuk membangun SDM Unggul. Action for Happiness adalah salah satu gerakan yang mempromosikan itu. Salah satu fanpage di Facebook sudah dibuat sejak tahun 2015 lalu untuk mengkampanyekan topik ini. Fanpage ini diberinama “Membangun Positivity” giat mempromosikan kiat-kiat praktis untuk memiliki positivity bagi siapa pun. Fanpage ini bahkan menawarkan ebook gratis bagi yang ingin mengenal neuroscience atau positivity beserta berbagai tips-nya.

Jika Indonesia juga tak mengikuti tren ini, lalu Indonesia akan menggunakan cara ilmiah apa lagi untuk memperbaiki SDMnya? Semoga itu berguna untuk mewujudkan mimpi Jokowi dan mimpi semua orang, yaitu Indonesia memiliki SDM Unggul.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *