Ini yang Sesungguhnya Terjadi pada Joker Menurut Neuroscience

Resensi Film “Joker”

Tahun 1981. Gotham City adalah kota di mana yang kaya semakin kaya, namun yang miskin semakin miskin. Banyak bagian kota yang kumuh tak terurus. Arthur Fleck (Joker) hidup di dalamnya menjadi badut dan stand-up comedian yang tak sukses alias gagal.

Film dibuka dengan adegan di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang ganti dan ruang rias untuk para pekerja teater. Seseorang terlihat sedang merias wajahnya menjadi badut. Ruang ganti itu terlihat sederhana atau bahkan terlihat kumuh. Sejak awal film ini memang menggambarkan sudut-sudut kehidupan yang terabaikan di kota besar.

Joaquin Phoenix yang memerankan tokoh Joker terkenal sering memainkan tokoh “sakit” dalam berbagai filmnya. Aktingnya di film Joker ini mendapat pujian di Venice Film Festival. Ada 2 nama besar lain yang membuat film ini memang layak untuk ditonton (khusus untuk orang dewasa), yaitu Robert De Niro dan Bradley Cooper (produser). Film Joker dirilis di Indonesia dalam waktu bersamaan dengan di Amerika.

Apakah Joker seorang yang jahat? Apakah penderitaan dan kekerasan yang dialami Joker sejak kecil mendorong kejahatan yang dilakukan Joker? Mengapa Joker membunuh dengan mudah? Apakah ada Joker di sekitar kita yang siap membunuh? Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di kepala penonton setelah menyaksikan film ini.

Di bagian menjelang akhir film, Joker digambarkan pernah disiksa saat ia masih kecil. Kepalanya pernah terluka parah karena pukulan. Tampaknya otaknya juga mengalami cedera. Itu salah satu sebab mengapa Joker sepanjang hidup harus menjalani terapi beberapa obat psychoactive sekaligus setiap hari dan menjalani terapi konseling sepanjang hidupnya. 

Namun persis saat Joker mengalami tekanan hidup yang semakin keras, yaitu karena gagal dalam karirnya sebagai badut atau sebagai stand up comedian, pemerintah setempat (karena kekurangan anggaran) menyetop tunjangan kesehatan warganya, termasuk Joker. Lalu Joker tak bisa lagi mengakses terapi obat-obatan yang diperlukan otaknya. Padahal tanpa obat-obatan itu otak Joker tak akan bisa berfungsi normal.

Menurut neuroscience jika otak kita dalam kondisi positif, maka fungsi otak kita akan baik juga. Semakin positif kondisi otak kita, maka otak akan lebih cerdas, lebih punya solusi, lebih kreatif, lebih inovatif, tahan stres atau depresi (mudah kembali pulih), bahkan otak kita akan lebih cenderung pada kebajikan.

Neuroscience memang telah sampai pada tingkat bisa menjelaskan kerja otak dan pengaruhnya terutama pada perilaku, juga kecerdasan dan kesehatan tubuh. Itu adalah hasil setelah neuroscience melakukan penelitian sepanjang lebih dari 2 dekade terakhir dengan menggunakan teknologi modern, seperti fMRI.

Kita sering membaca atau mendengar, bahwa masa kecil yang tak bahagia, apalagi kehidupan yang keras atau penuh tekanan akan membuat orang menjadi jahat atau keras pada orang lain. Penjelasan neuroscience adalah: lingkungan sekitar kita yang buruk atau lingkungan yang menghasilkan penderitaan atau tekanan akan membuat otak kita dalam kondisi negatif. 

Otak kurang atau tidak terdorong untuk mendapatkan cukup hormon-hormon yang baik seperti endorphins, dopamine, serotonin, oxytocin, dan lain-lain yang bermanfaat untuk menjadikan otak dalam kondisi positif. Otak bahkan hanya sering mendapat pasokan cortisol (hormon stres atau depresi) yang membuat otak tidak cerdas, tidak punya solusi, tidak kreatif, tidak inovatif, mudah stres dan depresi, bahkan cenderung pada yang bukan kebajikan.

Itu sebabnya Joker harus terus menelan obat-obat psychoactive yang bisa membantu kondisi otaknya agar terjaga untuk positif. Adegan-adegan Joker mendapat penanganan ahli jiwa memang sengaja ditonjolkan oleh sutradara dan penulis cerita (co-wrote) film ini, Todd Phillips, untuk memberi pesan bahwa mental illness memang harus mendapat perawatan. Demikian dikatakannya dalam sebuah wawancara. Mungkin ia terinspirasi dari data WHO, bahwa 300 juta orang di dunia menderita mental illness, namun tak mendapatkan perawatan yang memadai, karena rata-rata pemerintah di dunia hanya menyediakan 3% saja anggaran untuk kesehatan mental masyarakatnya.

Anda pernah mendengar ecstacy? Obat ini sering disebut obat untuk rekreasi atau clubbing. Obat ini sebenarnya bernama asli MDMA yang diciptakan oleh Alexander “Sasha” Shulgin, seorang ilmuwan Amerika yang baik hati, karena membagikan formula MDMA-nya secara gratis. MDMA ini diakui oleh dunia kedokteran jiwa sebagai obat yang efektif mampu menghasilkan kondisi positif di otak, sehingga mampu mengubah mood dan perilaku.

Itu sebabnya MDMA “sukses” dibuat oleh banyak orang biasa (bukan orang farmasi) dan dikenal dengan nama ecstacy karena siapapun yang menelannya akan merasa hidupnya lebih baik daripada biasanya. MDMA ini merubah mood dan perilaku orang menjadi lebih socialized. Itu sebabnya disebut obat untuk clubbing.

Namun saya mengingatkan Anda agar tidak mengonsumsi ecstacy, karena obat ini dibuat tidak dengan standar farmasi atau tidak dibuat dengan formula yang ketat sebagaimana disusun oleh Sasha. Ecstacy adalah obat yang dilarang oleh Undang-undang. MDMA sendiri hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter.

Setelah Joker berhenti menelan obat-obatnya, tentu kondisi otak Joker memburuk. Apalagi tekanan hidup menambah negativity di otaknya. Kemudian Joker juga mendapatkan fakta, bahwa ibunya adalah juga pengidap gangguan jiwa sejak Joker masih kecil. Itu artinya ia tak dibesarkan dengan kondisi lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang jiwanya. Ia bahkan diolok-olok oleh pembawa acara talkshow comedy, Murray Franklin (diperankan oleh Robert De Niro). 

Dengan kondisi otak yang negatif seperti itu, tentu Joker lebih cenderung pada yang bukan kebajikan. Ia berencana bunuh diri awalnya, tapi malah membunuh pembawa acara (Murray) saat diwawancarai di studio TV. Sebelum melakukan pembunuhan itu ia bahkan mengakui di depan kamera TV, bahwa ia yang membunuh 3 orang di kereta beberapa waktu sebelumnya, karena marah dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Kisah Joker adalah kisah fiksi, atau setidaknya itu menggambarkan kehidupan perkotaan di negeri-negeri maju di tahun-tahun 80-an. Warganya saling tak peduli satu dan lainnya. Angka kejahatan dianggap sebagai bagian dari kehidupan perkotaan.

Negeri-negeri maju dewasa ini sudah berubah. Sejak tahun 2012 ada “World Happiness Report” (WHP) yang diterbitkan oleh PBB setiap tahun untuk mengukur tingkat kebahagiaan dari hampir semua negeri di seluruh dunia. Kebahagiaan di sini berarti juga tingkat positivity (kondisi positif di otak). 

Sejak 2 dekade terakhir kata kebahagiaan memang sudah didefinisikan lagi oleh neuroscience, terutama oleh seorang neuroscientist, Shawn Achor: “… Happiness gives us a real chemical edge on the competition. How? Positive emotions flood our brains with dopamine and serotonin, chemicals that not only makes us feel good, but dial up the learning centers of our brains to higher levels. They help us organize new information, keep that information in the brain longer, and retrieve it faster later on. And they enable us to make and sustain more neural connections, which allows us to think more quickly and creatively, become more skilled at complex analysis and problem solving, and see and invent new ways of doing things.

Negeri seperti Amerika (setting lokasi di film Joker) memang tak sebaik negeri-negeri Skandinavia menurut WHP. Amerika juga tak sebaik negeri-negeri Eropa lainnya. Tapi Amerika berada di urutan 19 yang jauh lebih baik daripada negeri-negeri di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin. Bandingkan dengan Indonesia yang berada di urutan 92 di tahun 2019 ini. Tentu urutan Indonesia itu sangat buruk, dan tak heran jika situasi sosial dan politik kita memprihatinkan.

Negeri-negeri maju, terutama negeri-negeri Skandinavia sekarang adalah negeri-negeri yang diisi oleh warga yang memiliki kondisi otak yang positif. Mereka bahkan cenderung pada kebajikan. Itu terlihat saat Eropa dibanjiri pengungsi dari Timur Tengah.

Ketika pemerintahnya bersikap sangat hati-hati dengan para pengungsi, warganya malah membuka pintu rumahnya lebar-lebar pada para pengungsi. Mereka tak peduli pada risiko adanya teroris penyusup di tengah pengungsi. Itulah gambaran mereka yang memiliki kondisi positif di otaknya. Mereka bisa mendahulukan kepentingan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Hadirnya film Joker di Indonesia tentu sebuah berkah, karena semua mencoba membahas sosok Joker ini. Tulisan saya ini mencoba membahasnya dengan menggunakan neuroscience. Kita telah memiliki UU Perlindungan Anak yang mengharuskan semua orang tua menyediakan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak. Itu artinya anak harus berada di lingkungan yang bisa memberikan positivity bagi otak anak. 

Tapi UU Perlindungan Anak saja tampaknya belum cukup. Neuroscience memberikan beberapa tips penting agar otak kita atau anak kita tetap dalam kondisi positif. Tulisan atau video mengenai tips itu tersebar di berbagai media sekarang. Kita tinggal membacanya dan mempraktekkannya. Semua berguna untuk mencegah munculnya joker-joker lainnya.

Pemerintah Jokowi nampaknya sudah memiliki kepedulian dalam soal ini. Itu terlihat dalam program SDM Unggul yang ditetapkan pemerintah. Namun hingga kini belum nampak konsepnya, sains apakah yang dijadikan dasar untuk konsep SDM Unggul ini? Saya belum melihatnya, sama seperti saat Jokowi menyebut Revolusi Mental

Selama 5 tahun terakhir saya tak melihat sains dijadikan dasar bagi konsep untuk Revolusi Mental itu. Padahal kita butuh sains untuk mencegah munculnya joker-joker di dunia politik kita. Mengapa begitu? Karena ternyata di zaman digital ini, dunia politik bisa punya pengaruh buruk pada masyarakat. 

Politisi yang buruk akan menyebarkan keburukannya pada masyarakat. Itu mereka lakukan dengan sangat mudah di zaman digital atau zaman medsos ini. Masyarakat harus dilindungi dari pengaruh buruk joker atau politisi sontoloyo itu. Untung neuroscience sudah memberikan tipsnya. Meski sayangnya pemerintah belum memanfaatkannya.

Sejak tahun 2014 lalu saya mendalami neuroscience, khususnya tentang bagaimana kita bisa memaksimalkan fungsi otak. Apa yang sudah saya ketahui saya bagikan lagi di berbagai media. Sekarang itu semua tersedia di situs Membangun Positivity. Film Joker menyentak saya untuk lebih bersemangat lagi menyebarkan berbagai hasil yang telah dicapai oleh neuroscience untuk mencegah munculnya orang-orang seperti Joker, terutama di dunia politik.

Semoga berguna.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *