Pentingkah Positivity atau Kebahagiaan untuk Indonesia?

Gambar: baliexpat.com

Ada banyak definisi kebahagiaan yang kita dapatkan dari Googling, mulai yang ringan, agamis, filosofis, hingga ilmiah. Kebanyakan orang mengartikan kebahagiaan sebagai kesenangan. Tentu itu tidak salah, sehingga orang yang beribadah bisa disebut bahagia jika dia merasakan kesenangan atau menyukainya. Namun sekarang kebahagiaan juga didefinisikan oleh neuroscience (ilmu tentang otak), yaitu keadaan positif di otak yang membuat otak bekerja lebih maksimal.

Itu sebabnya kata kebahagiaan sekarang disebut dengan positivity, yaitu keadaan positif di otak yang bisa membuat tubuh menjadi lebih sehat, tidak gampang mengalami stress atau depresi dan bahkan menumbuhkan kecenderungan pada kebajikan. Tidak hanya itu positivity membuat orang menjadi lebih cerdas, kreatif, inovatif, dan lebih punya solusi.

Seharusnya dua paragraf di atas bisa mengejutkan pembaca. Salah satunya karena mungkin kita beberapa kali sudah membaca artikel atau penelitian tentang otak manusia yang hanya digunakan sebesar 30% saja dari kemampuan yang sebenarnya. Artinya, jika kita tahu cara memaksimalkan kerja otak, maka  mungkin bisa mendapatkan pencapaian yang lebih tinggi dalam hidup. Bahkan kita dapat memperbaiki moral atau kecenderungan kita pada kebajikan.

Apakah itu artinya kita juga bisa memanfaatkan ilmu positivity ini untuk negeri ini? Misalnya untuk memecahkan persoalan besar bangsa ini, yaitu korupsi? Atau persoalan tertinggalnya kemakmuran (GDP per capita) kita dari Singapura yang cuma negeri kecil? Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh laporan PBB yang diterbitkan setiap tahun sejak 2012 lalu, yaitu “World Happiness Report“.

Setiap tahun “World Happiness Report” mengeluarkan daftar negara yang paling bahagia di dunia. Laporan ini dibuat oleh para ahli neuroscience atau positivity, seperti John F. Helliwell,  Richard Layard, Jeffrey D. Sachs, Haifang Huang,  Shun Wang dan lain-lain.

Setidaknya ada 6 faktor yang diukur untuk menentukan kebahagiaan sebuah negeri, yaitu:

  1. GDP per capita,
  2. Social support,
  3. Healty life expentancy,
  4. Freedom to make life choices,
  5. Generosity,
  6. Perceptions of corruption.

Kaget? Penjelasan mengenai bagaimana GDP bisa menaikkan tingkat kebahagiaan warga ada di sejumlah penelitian, seperti:

  • Apakah uang bisa membuat orang bahagia?
  • Berapa besar penghasilan minimum untuk menaikkan tingkat kebahagiaan?

Penelitian seperti ini dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia (baca ebook saya di sini). Beberapa penelitian ini menjelaskan mengapa uang (dalam jumlah tertentu) memiliki peranan dalam menaikkan tingkat kebahagiaan atau positivity.

Semua faktor untuk mengukur tingkat kebahagiaan sebuah negeri adalah berdasarkan ratusan penelitian neuroscience atau positivity yang baru saja berkembang dalam lebih 2 dekade terakhir ini. Ilmu ini sering juga disebut Psikologi Positif, meski tidak seperti psikologi sebagaimana dijelaskan oleh pionir psikologi positif, Martin Seligman. Psikologi positif juga bukan berpikir positif yang selama puluhan tahun belakangan ini menjadi judul bahasan yang populer.

Psikologi positif mempelajari apa yang terjadi di otak jika melakukan ini atau itu atau kebalikannya. Juga mempelajari apa yang bakal kita lakukan jika kondisi otak begini atau begitu. Temuan penting psikologi positif ini adalah serangkaian cara untuk memaksimalkan fungsi otak yang amat berguna dalam kehidupan sehari-hari atau untuk mendapatkan pencapaian yang tinggi dalam hidup.

Sepuluh teratas dalam daftar “World Happiness Report” adalah 5 negara Skandinavia, yaitu Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Islandia. Bersama 5 negara ini ada Australia, Belanda, Canada, New Zealand, dan Swiss.

Di mana Indonesia? Peringkat Indonesia gak bagus, yaitu di 92 di tahun 2019 ini. Lebih buruk daripada negeri-negeri Asia lain, bahkan dari Thailand, Malaysia atau Phillipina. Padahal Singapura yang sekecil itu mendapat peringkat 26. Cukup memprihatinkan Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam bahkan lebih buruk dari Pakistan yang miskin sumber daya alam.

Apa yang menyebabkan Indonesia berada di urutan yang buruk? Mengapa Indonesia dinilai buruk dengan menggunakan 6 indikator “World Happiness Report?” Mungkinkah jawabnya ada di kepemimpinan di negeri ini? Siapa pembuat kebijakan publik di negeri ini? Siapa pelaksana kebijakan publik di negeri ini? Atau bangsa ini sudah terlalu rusak untuk diperbaiki oleh hanya segelintir pemimpin di negeri ini?

Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan itu? Atau apakah itu pertanyaan-pertanyaan yang salah?

Jika kita melihat hasil-hasil penelitian neuroscience, maka apa pun pertanyaannya, maka jawabannya cukup sederhana: Kita tidak memiliki otak dengan kondisi positif, sehingga tidak berfungsi maksimal.

Artinya:

  • Kita kurang cerdas, kurang kreatif, kurang inovatif, kurang punya solusi untuk berbagai persoalan, mudah termakan hasutan.
  • Kita cenderung pada yang bukan kebajikan (mudah curiga, benci, marah, tak suka menolong yang lain).
  • Kita mudah cemas berlebihan atau depresi berkepanjangan.
  • Tubuh kita pun kurang sehat, sehingga tak berumur panjang.

Jika itu persoalan kita, lalu bagaimana agar kita memiliki otak dengan kondisi positif itu? Tentu jawabannya adalah: Ikuti berbagai tips yang sudah ditemukan oleh neuroscience.

Semoga berguna.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *