Bisakah Indonesia di Tahun-tahun Mendatang Memperbaiki Rangkingnya di “World Happiness Report?”

Setidaknya ada 6 indikator yg diukur oleh PBB dalam “World Happiness Report” yg diterbitkan setiap tahun. Laporan ini adalah cara baru untuk mengukur kemajuan sebuah negeri.

  1. GDP per capita
  2. Social Support
  3. Healthy life expectancy
  4. Freedom to make life choices
  5. Generosity
  6. Perceptions of corruption

Apakah Indonesia bisa memperoleh ranking bagus di 6 indikator ini? Tahun 2019 ini Indonesia berada di urutan 92. Buruk sekali.

Dalam laporan PBB ini GDP per capita diletakkan paling atas, karena ekonomi tentu akan mempengaruhi banyak indikator lain dalam kehidupan sehari-hari sebuah negeri. Semoga infrastuktur yg dibangun Jokowi dan SDM Unggul kelak akan menaikkan angka GDP per capita.

Kita kemarin sudah melihat pencapaian atlit-atlit kita di Asian Games di tahun 2018 lalu. Besar kemungkinan pencapaian itu berhubungan dengan fasilitas atau infrastruktur yg sudah disediakan oleh mereka yg punya dedikasi besar pada negeri ini. Bukan hanya pencapaian atlit saja yg patut dipuji tapi penyelenggaraan even besar ini banyak dipuji oleh dunia. Pencapaian ini menunjukkan indikator dari social support yg mulai terbangun.

Healthy life expectancy tentu berkaitan dengan indikator nomor 1 (GDP per capita) dan juga soal Corruption. Jika banyak korupsi maka sulit untuk menaikkan angka GDP per capita atau menyediakan fasilitas kesehatan untuk masyarakat. Semoga BPJS bisa mewujudkan itu.

Di negeri-negeri teratas dalam rangking “World Happiness Report” pendidikan selalu menjadi prioritas utama. Setelah ekonomi membaik, tentu pendidikan yg baik akan menjadi mudah untuk diselenggarakan. Pendidikan yg terselenggara dengan baik menjadi tanda, bahwa tak akan ada lagi hambatan yg berarti untuk mewujudkan cita-cita atau gagasan yg dimiliki warga sebuah negeri (freedom to make life choices).

Generosity adalah salah satu tanda adanya kebahagiaan (positivity). Itu sebabnya perlu diukur apakah warga sebuah negeri memiliki generosity? Positivity adalah hasil dari beberapa pencapaian lain (indikator lain), seperti GDP per capita dan lainnya.

Adanya korupsi (perceptions of corruption) di sebuah negeri tentu mengganggu kenyamanan, karena muncul misalnya kecurigaan atau ketidakpercayaan pada pemerintah. Selain itu korupsi juga mengganggu kualitas layanan pemerintah kepada warganya. Maka angka korupsi harus minimal di mata warganya.

Bisakah Indonesia di tahun mendatang memperbaiki rangkingnya di “World Happiness Report“? Saya yakin bisa, karena tandanya sudah ada.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *