Mau Bahagia? Mau Sukses? Mana yang Lebih Dahulu?

Buku yang membahas tentang motivasi, mindset atau habit sudah banyak ditulis. Juga buku tentang cara memperoleh kebahagiaan, kesuksesan dan kekayaan. Namun mungkin belum ada yang mengukur apakah buku-buku itu menaikkan jumlah orang bahagia, sukses, kaya atau yang termotivasi.

Sejak pertama kali World Happiness Report (WHP) diterbitkan pada 2012, Indonesia berada di urutan yang buruk dalam soal pencapaian berbagai hal, termasuk soal GDP per capita dan kebahagiaan.

Apa yang salah dengan buku-buku itu? Apakah sulit diaplikasikan? Apakah kebahagiaan, sukses, kaya hanya untuk orang-orang yang sudah ditakdirkan? Atau buku-buku itu hanya untuk enak dibaca saja?

Tiga dekade terakhir ini neuroscience berkembang lebih cepat berkat perkembangan teknologi, terutama alat-alat yang bisa melihat apa yang terjadi di otak, misalnya MRI (Magnetic Resonance Imaging). Berkah dari perkembangan teknologi ini adalah banyak riset di seluruh dunia telah dibuat untuk melihat apa yang terjadi pada otak saat kita melakukan tindakan tertentu. Begitu juga sebaliknya, apa yang yang cenderung kita lakukan saat otak kita dalam kondisi tertentu.

Neuroscience ini kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan potensi positif yang dimiliki manusia. Psikologi positif juga disebut ilmu yang mempelajari tentang positivity atau kebahagiaan. Psikologi positif terus menggali cara untuk menjadi bahagia atau positif berdasarkan apa yang sudah dimiliki manusia. Bukan melanjutkan psikologi yang sebelumnya hanya menggali cara untuk memperbaiki atau menyembuhkan apa yang salah atau apa yang rusak dari manusia. Shawn Achor salah satu neuroscientist bilang, Jika kita bahagia, maka banyak yang bisa kita raih dalam hidup ini.

Neuroscientist yang lain, Martin Seligman menjadi pionir yang mengembangkan psikologi positif di dunia dalam hampir 3 dekade terakhir. Kemudian ada nama-nama lain seperti Shawn Achor, Barbara Fredrickson, Richard Layard, dan Richard J. Davidson yang membuat ilmu tentang kebahagiaan menjadi mudah diaplikasikan oleh orang-orang kebanyakan.

Indonesia sudah memiliki beberapa buku ilmiah tentang psikologi positif atau ilmu kebahagiaan.  Namun demikian Indonesia belum memiliki buku ilmiah yang tidak sekedar mengenalkan ilmu kebahagiaan, tetapi juga menawarkan cara mengaplikasikannya dengan cara yang populer. Buku-buku Martin Seligman tentu sangat ilmiah, sehingga mungkin hanya cocok bagi akademisi. Demikian juga buku-buku psikologi positif yang sudah diterbitkan di Indonesia.

Itu sebabnya saya mencoba menerbitkan ebook berjudul “Membangun Positivity” dengan bahasa yang lebih populer. Buku ini menawarkan sesuatu yang belum pernah ada, yaitu cara menjadi bahagia, positif dan sukses dengan memanfaatkan berbagai riset dalam bidang neuroscience atau psikologi positif. Tips-tips diberikan buku ini dibuat sederhana, agar mudah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan oleh orang kebanyakan.

Jika Daniel Goleman, yang terkenal di tahun 90-an dengan “Emotional Intelegence” menulis berbagai buku dan artikelnya untuk mereka yang ingin sukses dan menjadi pemimpin, ebook saya ditujukan untuk kalangan yang lebih luas, yaitu dari yang masih muda atau remaja, di usia produktif, hingga hingga usia senja. Juga untuk mereka yang berpendidikan biasa hingga tinggi. Termasuk juga mereka yang sedang meniti karir di lapisan manajemen terbawah, di middle, hingga di puncak piramida kekuasaan. Jangan lupa ebook saya juga untuk rakyat biasa yang ingin hidup sejahtera, wakil rakyat, hingga para pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan di negeri ini.

M. Jojo Rahardjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *