Sex dan Positivity

Kesenangan yang dihasilkan oleh aktivitas seksual nampaknya adalah hadiah dari alam untuk membuat kita menyukai proses berketurunan agar spesies manusia tidak mudah punah. Namun aktivitas seksual tidak hanya memberikan kesenangan semata, namun juga memberikan positivity. Semuanya menjadi lebih jelas oleh neuroscience, yaitu tentang positivity yang diperoleh dari aktivitas seksual, terutama yang sering dan teratur.

Sex itu menyenangkan. Itu sebabnya kita menyukainya dan bisa “menghabiskan” waktu untuk melakukannya. Kesenangan itu kita dapatkan karena dilepaskannya dopamine, senyawa kimiawi (berfungsi sebagai neurotransmitter di otak) yang mengaktifkan reward center of the brain. Saat orgasmserotonin dan opiods juga dilepaskan. Senyawa kimiawi ini juga terkandung dalam heroin, sehingga tidak heran jika akitivitas seksual dengan pasangan yang tepat dapat menimbulkan ketagihan. Ini juga terjadi saat kita menggunakan obat~obatan, termasuk caffeiinenicotine dan chocolate yang sama mengaktifkan reward center of the brain seperti dikatakan oleh Timothy Fong, MD, associate professor of psychiatry at UCLA’s David Geffen School of Medicine. 

Berbagai studi yang tersebar di berbagai media menunjukkan, bahwa aktivitas seksual yang lebih sering dan teratur dapat mengurangi tingkat stres. Aktivitas seksual setidaknya 3 kali seminggu menambah panjang umur anda, karena hormon seperti endorphine menurunkan tingkat stress dan tekanan darah menjadi normal. Studi lainnya menunjukkan mereka yang baru saja melakukan aktivitas seksual akan lebih baik dalam menghadapi situasi stress, misalnya berbicara di hadapan umum. 

Sebuah studi lainnya di University di Albany meneliti 300 perempuan dan menemukan, bahwa mereka yang tidak menggunakan kondom kurang menunjukkan gejala depresi dibanding yang menggunakan kondom. Para peneliti menemukan berbagai kandungan di dalam sperma yang diserap ke dalam tubuh dari sebuah aktivitas sex. Sperma ini mengandung antara lain: estrogen dan prostaglandin yang mengandung bahan~bahan antidepresi. Tentu ini berita baik bagi mereka yang memiliki keseriusan hubungan dengan pasangannya.

Studi di tahun 2010 yang menggunakan tikus menemukan aktivitas sex yang dilakukan setiap hari selama 14 hari telah menumbuhkan neuron pada hippocampus, bagian dari otak yang berkaitan dengan memori. Ini mungkin menunjukkan bahwa sex yang teratur dapat memperbaiki kinerja otak secara umum.

Berbagai studi telah dilakukan yang menunjukkan kaitan aktivitas seksual dengan kesehatan, seperti studi di Wilkes University yang menunjukkan mereka yang beraktivitas seksual 2 kali seminggu memiliki immune system 30% lebih baik. Sedangkan menurut studi di Jerman, 60% penderita migraine atau sakit kepala lainnya setelah melakukan aktivitas seksual dilaporkan sembuh dari sakit kepala atau berkurang. Sebuah studi di Inggris menemukan korelasi antara sex yang teratur setidak 2 kali seminggu selama 10 tahun dengan menurunnya resiko terkena serangan jantung hingga 50%. 

Sex membuat pria mengantuk daripada perempuan. Ini karena bagian tertentu di otak, yaitu prefrontal cortex “meredup” setelah ejakulasi. Ini bersamaan dengan dilepaskannya oxytocin dan serotonim. Studi lainnya menunjukkan saat aktivitas seksual dilakukan, ada satu bagian otak yang “meredup”, yaitu amygdala. Bagian otak ini adalah bagian paling tua, karena sudah ada sejak masa evolusi yang awal, yaitu reptile period, berfungsi untuk mengontrol situasi darurat, misalnya untuk melakukan dua hal saja, yaitu fight atau flight. Karena “meredup”, maka bagian otak lain seperti the frontal lobe juga ikut “meredup”. Sebagaimana kita ketahui the frontal lobe bertugas untuk melakukan analisa, atau proses berpikir yang lebih tinggi. Sehingga pada saat ini mereka yang sedang dalam proses untuk melakukan aktivitas seksual cenderung mengabaikan “ancaman”. Mungkin ini menjelaskan beberapa hal “gila” atau yang tidak rasional bisa dilakukan pasangan yang sedang dilanda asmara.

Karena seks memberikan positivity (pengaruh yang baik bagi otak), maka mungkin kita harus mempertimbangkan untuk lebih sering dan lebih teratur melakukan aktivitas seksual. Membaiknya kemampuan menyimpan dan mengambil memori setelah melakukan aktivitas seksual itu mungkin menunjukkan membaiknya kerja otak secara umum. Namun perlu juga diingat bahwa mungkin aktivitas seksual yang lebih sering dan teratur bisa berkaitan dengan lifestyle yang sehat atau baik. Jadi penting untuk memperbaiki lifestyle yang sehat dan baik lebih dahulu, karena aktivitas seksual yang lebih sering dan teratur akan mengikutinya secara otomatis.

Saya belum menemukan studi tentang apa pengaruhnya jika aktivitas seksual dilakukan pada pasangan yang berbeda. Namun itu mungkin bisa dijelaskan dengan studi yang lain yang tidak langsung menunjukkan bahwa memiliki satu pasangan hidup yang tetap dapat membuat kita mendapatkan positivity dan otomatis lebih sehat dan berumur panjang. Studi yang lain juga menunjukkan bahwa melakukan aktivitas positif (seperti aktivitas seksual) jika tidak dilakukan dengan pasangan yang tetap bisa “melukai” pasangan tetap. Jadi melakukan aktivitas seksual bukan dengan pasangan tetap, barangkali memiliki potensi untuk menjadi aktivitas yang negatif. 

M. Jojo Rahardjo

3 Comments to “Sex dan Positivity”

  1. Hi. I have checked your membangunpositivity.com and i see
    you’ve got some duplicate content so probably it is the reason that you don’t rank high in google.
    But you can fix this issue fast. There is a tool that rewrites content like human, just search in google:
    miftolo’s tools

  2. You should take part in a contest for one of the most useful websites on the internet. I will recommend this web site!

  3. Pretty! This was a really wonderful post. Thanks for supplying this information.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *